book review

Review: Glaze

“Kebersamaan kalian dahulu tidak akan hilang hanya karena kau jatuh cinta lagi.” – hlm. 258

*

Judul                             : Glaze; Galeri Patah Hati Kara dan Kalle

Penulis                          : Windry Ramadhina

Penyunting                  : Gita Romadhona

Desainer Sampul        : Dwi Anissa Anindhika

Penata Isi                     : Gita Mariana

Penerbit                       : Roro Raya Sejahtera

Cetakan                        : Pertama, Januari 2017

Jumlah Halaman       : 396 halaman

ISBN                             : 978-602-60748-2-9

*

Seperti glasir di permukaan keramik, aku merasakanmu sepanjang waktu. Mataku tak lelah menatapmu, diam-diam mengabadikan senyumanmu di benakku. Telingaku mengenali musik dalam tawamu, membuatku selalu rindu mendengar cerita-ceritamu. Bahkan ketika kita berjauhan, aku selalu bisa membayangkanmu duduk bersisian denganku.

Seperti glasir di permukaan keramik, kepergianmu kini membungkusku dalam kelabu. Ruang di pelukanku terasa kosong tanpa dirimu. Dadaku terlalu sesak karena tumpukan kesedihan mengenang cintamu. Bahkan ketika aku ingin melupakanmu, bayanganmu datang untuk mengingatkan betapa besar kehilanganmu.

Aku menyesal telah membuatmu terluka, tapi apa dayaku? Aku yang dulu begitu bodoh dan naif, terlambat menyadari kalau kau adalah definisi bahagiaku.

*

“Aku takut, Kalle. Bukan terhadap kematian, bukan. Aku takut meninggalkan orang-orang yang kusayangi. Dia, terutama.” – hlm. 48

 

Kalle entah harus merasa lega atau sedih ketika adiknya—Elliot—dinyatakan meninggal dunia. Seumur hidup Kalle dibayang-bayangi oleh Elliot, dan setelah adiknya pergi, tentu saja tidak akan ada lagi bayangan yang membebani hidupnya. Nyatanya, pikiran Kalle salah. Elliot pergi dengan tetap menyisakan beban yang harus dipikul Kalle. Menjaga seseorang.

Kara namanya, dia adalah perempuan berantakan yang suka membuat keramik dan punya kucing hitam bernama kuas. Tetangga sekaligus kekasih Elliot ketika anak itu masih hidup. Setelah Elliot meninggal, hati Kara ikut terluka. Setelah bertemu Kalle, Kara belajar lagi bagaimana caranya tersenyum, mengobati lukanya karena kematian Elliot dan berusaha untuk tetap hidup.

Sejak pertemuan-pertemuan itu, hidup keduanya tak lagi sama. Rindu, tepisan perasaan, dan cinta, memenuhi pikiran, membuat mereka kesulitan mendefinisikan tempat satu sama lain di hati mereka.

*

Novel ini ditulis dengan point of view dari orang pertama, bergantian dari sisi Kara dan Kalle. Pembaca akan dibawa dengan cerita yang lebih mencerminkan sisi maskulin pada bagian Kalle, kemudian bertukar menjadi bagian feminim yang cenderung lebih terasa rapuh dan ceroboh pada sisi Kara.

Sebagai pembaca, saya dapat merasakan dengan jelas bagaimana kecerobohan Kara. Loop, chamois, spons. Kara selalu mengatakan kata itu berulang-ulang. Kara juga suka mengulang bunyi sesuatu. Seperti suara tawa dengan ha ha ha ha, suara alarm dengan tut tut tut tut dan derit meja beradu dengan ponsel menjadi ngit ngit ngit ngit.

Karena diceritakan dengan sudut pandang orang pertama dari dua tokoh utama sekaligus, novel ini membuat pembaca tahu banyak hal, termasuk perasaan Kara dan Kalle sekaligus. Dinginnya Kalle dan kemuraman Kara bisa dirasakan dengan dalam.

Novel Glaze tidak menggunakan banyak setting. Latarnya punya porsi yang pas dan digambarkan dengan familiar sehingga dari awal hingga akhir, latar utamanya terasa begitu dekat di benak saya.

Selain itu, novel ini juga mengandung ilustrasi-ilustrasi milik Mbak Windry yang cantik. Membaca novel ini sebenarnya membuat saya penasaran dengan bentuk keramik-keramik yang dibuat oleh Kara. Saya jadi semakin ingin melihat bagaimana keramik yang muram, keramik yang ceria dan lain-lain.

Jika novel ini disebut sebagai galeri patah hati Kara dan Kalle, mungkin karena keduanya tidak sadar telah mematahkan sendiri hati mereka dan melupakan sejenak definisi bahagia mereka.

Salah satu adegan kesukaan saya adalah ketika Kara memberikan cangkir biru untuk Kalle, juga ketika gadis kumal itu mendeskripsikan Kalle di kolam renang. Sekilas Kara terlihat mirip dengan Haru (baca Montase), tetapi jauh lebih ceroboh dan kumal dan kacau. Dan saya jatuh cinta pada sosok Kara. Oh, juga kuas!

Secara keseluruhan, novel ini sangat menyentuh hati, masih saja hangat seperti novel-novel Mbak Windry yang lainnya. Pilihan pas untuk yang ingin membaca novel roman yang agak sendu. Ah, jika saya bisa memilihkan satu soundtrack untuk novel ini, saya akan memilih Lime Tree dari Trevor Hall.

“Baik-baik saja tidak sama dengan bahagia.” – hlm. 366

*

p.s. akhirnya menulis review sederhana di blog lagi. yeay!

 

Advertisements

Your feedback is a gift

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s