Pindah

pic credit : emilial.com

Semua yang berpindah akan terasa janggal pada awalnya.

Pindah. Saya mengartikannya sebagai pergerakan dari satu titik ke titik lain. Setiap hari, kita semua melakukan perpindahan-perpindahan, baik besar ataupun kecil. Momen berpindah tersebut biasanya baru akan terasa jika kita telah lebih dulu menetap dalam jangka waktu yang lama sebelumnya.

Pekan ini, saya disibukkan dengan perihal pindah. Letak kamar yang lama dengan kamar yang baru memang masih di lingkungan yang sama, tetapi bukan berarti tidak ada yang berubah. Dari kamar yang biasa dihuni bertiga, kini saya berada di kamar yang dihuni berdua namun terasa lebih privat. Bukan berarti saya tidak menyukai jenis kamar semi-privat seperti ini. Untuk introvert semacam saya, mendapatkan kamar jenis begini malah sesuatu yang menguntungkan. Saya tidak perlu repot-repot memikirkan bagaimana caranya menyesuaikan diri dengan teman sekamar yang baru.

Yang menyebalkan dari pindah kamar seperti ini adalah barang-barang yang banyak, yang harus dibongkar, dipindah, kemudian ditata kembali. Menyebalkan! Positifnya, mungkin kita bisa mengganti suasana dari susunan barang yang baru itu. J

Sesuatu yang baru—sama seperti sesuatu yang lama—akan memiliki nilai tambah dan kurangnya sendiri. Masalah kenyamanan, menurut saya, seseorang akan lebih mudah memperolehnya dengan cara menyesuaikan diri. Pandai-pandai membuat tempat baru itu senyaman—atau bahkan lebih nyaman—dari tempat lama yang kita tinggalkan.

Saya berkali-kali membayangkan bagaimana serunya menghias kamar baru saya, hanya karena saya ingin membuat diri saya merasa senang akan perpindahan. Meskipun sebenarnya, banyak hal yang jadi pertimbangan. Perpindahan, sekecil apa pun akan membutuhkan banyak pertimbangan. Opsi-opsi yang tak lain adalah percabangan dari jalan yang harus kita lalui untuk berpindah.

Bukan hanya saya yang harus meninggalkan kamar lama. Seorang teman baru-baru ini berkata bahwa terasa aneh ketika akan meninggalkan tempat yang hampir tiga tahun ditinggali. Menurut saya, yang membuat semuanya terasa aneh adalah meninggalkan kebiasaan-kebiasaan lama, kemudian kita dipaksa menjalani kebiasaan baru. Memang aneh, tetapi bertahan di kebiasaan lama mungkin saja tidak membuat kita berkembang.

Saya tidak berkata bahwa kebiasaan baru akan membuat kita otomatis berkembang, kembali lagi pada diri kita sendiri, bukan? Seperti ketika kita berada di atas sepeda, memilih tidak mengayuh dan jatuh, atau mengayuh dan berpindah?

Kita tidak akan tahu apa yang terjadi di tempat yang baru, bukan? Jangan takut berpindah. Jika khawatir tidak bahagia, jangan khawatir. Kekhawatiranmu akan membuatmu semakin tidak bahagia. Ciptakan kebahagiaanmu sendiri.

Jadi, sudah siap pindah? Kalau saya, sih, siap tidak siap.

 

Pangkalan Kerinci, 14 Mei 2016

Advertisements

2 thoughts on “Pindah

  1. Aku suka deh sama ceritanya kak Mala, ya walaupun yang ini gak literally cerita fiksi, tapi selalu ada yang di sampaiin ke pembacanya, and it’s a very nice one ♥

    Semangat beradaptasinya lagi kak, nanti juga bakal sayang sama kamar ;) and keep making something great!

    1. literally, ini memang bukan cerita fiksi, cuma curhatan nggak jelas. Hahaha. :D
      Dan aku seneng banget kamu komen, Sher. Hahaha. You’re a nice reader, indeed.
      Terima kasih juga semangatnya.. Hehehe. Aku bakal semangat adaptasi dan semoga kamar baru ini giving me more good vibes. :)

Your feedback is a gift

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s