Yang Tersimpan, Yang Terindah

image

doc. Pri Wahyu via Instagram

Yang Tersimpan, Yang Terindah

a short story by dhamalashobita

Malam di luar pekat. Dan siapa sangka dari jutaan gambar yang diambilnya, milikku ada di tengah. Kau tentu tahu tengah, bukan? Pusat. Seperti matahari sebagai pusat tata surya. Dikelilingi ribuan bintang dan planet. Dan di antara pekatnya malam yang diterangi pendar dari bola lampu yang menyala remang-remang, wajahku dengan lipstik merah pekat terlihat berwarna, di antara puluhan foto hitam putih.

*

“Jadi ini shutter-nya ya. Tolong pegang ini sebentar. Biar kupasang tripod.”

Malam itu bulan penuh. Sebenarnya, yang kubaca di Wikipedia, waktu yang tepat untuk menangkap potret konstelasi adalah pada bulan baru, tetapi laki-laki di depanku itu bersikeras melakukannya malam itu juga. Katanya, dari tempat kami di bagian bumi selatan, konstelasi bintang-bintang itu dapat terlihat kapan saja. Tidak peduli itu bulan baru atau bulan penuh. Maka berdirilah kami di atas loteng rumahku, dengan tripod, Nikon D7000, tikar anyaman bambu dan dua gelas cokelat hangat.

Aku suka bintang, beserta konstelasinya. Namun aku lebih menyukai laki-laki yang tengah berkutat dengan Nikon D7000 yang kini diletakkannya di atas tripod. Jari-jarinya menekan tombol-tombol pada bagian badan kamera. Yang diracaukannya setelah itu adalah tentang aperture, ISO 3200 yang pas untuk membidik konstelasi dengan kameranya, kemudian dia kembali terdiam.

“Aku tidak mengerti apa yang kau katakan, Rey.”

“Ini, kau hanya perlu menekan ini, mengatur shutter speed.” Namanya Rey dan kini dia berdiri di belakangku karena aku tengah mengutak-atik kameranya—atau lebih pantas jika kusebut benda itu sebagai kekasihnya.

Persetan dengan shutter speed, ISO, aperture, focal length, white balance, exposure dan serentetan istilah asing lainnya yang sama sekali tidak terdengar familiar di telingaku. Yang aku inginkan hanya gambar konstelasi. Oh bukan, yang aku inginkan hanya waktu bersama Rey. Segala macam foto konstelasi yang kubilang ingin kupelajari cara mengambilnya hanya alibi kosong semata. Tidak lebih dari sekadar alat untuk lebih dekat pada Rey—laki-laki yang lambat laun semakin terlihat menarik di mataku.

“Jadi intinya, kau hanya perlu fokus. Bahkan jika mengambil foto konstelasi semacam ini, aku menahan napasku dalam-dalam. Tidak boleh ada vibrasi, yang ada gambarmu akan blur, konstelasinya tidak akan terlihat.”

Persetan. Aku masih bisa mendapatkannya di Google, batinku. Tapi aku mengangguk pelan. Tetap menyimak alih-alih yang kusimak bukanlah teknik mengambil gambar, melainkan suara tenornya yang menyejukkan hati. Setelah racauannya tentang teknik menggunakan kamera, aku membiarkan Rey sibuk dengan kekasihnya. Sungguh, aku lebih baik menunggu foto yang kuinginkan terambil oleh Rey daripada belajar memotret sendiri.

“Rey…”

“Dapat!” Kami berseru bersamaan. Aku tertawa kecil ketika melihat Rey melepaskan matanya dari kamera kemudian tersenyum, bersorak sambil menatap puas ke arahku seperti seorang anak kecil yang baru saja berhasil menyelesaikan satu gambar rumah yang tengah dikerjakannya.

“Dapat? Kau dapat konstelasinya?” tanyaku.

“Crux. Memang dia yang paling umum. Tapi kali ini yang terlihat memang hanya Crux. Lain kali kita cari Scorpius, oke?”

Aku mengangguk dan tentunya tak lupa tersenyum. Tidak masalah apakah itu Crux, Scorpius, Cassiopeia, ataupun Orion. Asalkan momennya selalu terasa manis seperti ini, aku tidak akan keberatan. Lagipula Rey, tadi aku ingin bilang bahwa aku suka melihatmu berkutat dengan kamera. Membuatku cemburu memang, tetapi aku menyukainya.

*

Dia tidak tampan, hanya sedikit manis. Yang selalu berada di genggamannya adalah kamera, yang tak kutahu berjenis apa. Dua hari lalu, dia gunakan Nikon D7000 miliknya untuk mengambil Crux, sekarang sudah berganti. Yang paling kusukai adalah wajahnya ketika mengambil gambar. Sepertinya ia menahan napas, fokus pada satu titik, kemudian…klik! Sebuah potret terambil. Begitu saja. Dia sempurna. Sempurna dengan caranya.

“Tara! Di sini.” Rey dengan semangat memanggilku. Sambil mengarahkan kameranya ke sisi kanan dan kiri. Nyaris tak ada orang yang luput dari jepretannya pagi itu. Seorang ibu muda dengan Retriever yang menarik tangannya, anak bayi kembar di kereta bayi mereka, sepasang kakek dan nenek yang berjalan santai bersama. Kami berada di taman yang terletak di sekitar apartemen Rey dan kegiatan ini sudah berlangsung selama dua hingga tiga hari.

Aku mulai cemburu.

Setiap siang hingga sore hari, Rey akan kembali ke apartemen, mencetak foto-fotonya, menempelkan di dinding. Sebagian dibawanya ke studio untuk dicetak besar-besar. Katanya, dua bulan lagi Rey akan menggelar pameran. Jika kutebak, fotonya tentang keceriaan manusia.

Terakhir, Rey memanggilku untuk berteduh di bawah pohon ketika matahari mulai meninggi. Kemudian ketika dia menenggak air mineral di botol, kerjaku adalah melihat kumpulan foto yang diambilnya. Indah. Akan selalu indah jika Rey yang mengambilnya, sesuatu yang diambil dengan sungguh-sungguh, yang sampai memancarkan keindahan ketika seseorang melakukannya, aku percaya akan menghasilkan sesuatu yang indah pula.

“Dari ribuan foto yang kamu ambil, mana yang paling kamu suka, Rey?”

“Yang paling aku suka? Tersimpan rapi di tempatku. Belum waktunya orang-orang melihat, Tar.”

*

Siapa sangka, dua bulan yang ditunggu-tunggu dapat menjadi dua tahun. Kemudian apa yang kutunggu-tunggu untuk dilihat tidak lagi menjadi prioritas utama. Aku berjalan di trotoar, hak stiletto setinggi tujuh sentimeter menimbulkan bunyi ketukan ketika beradu dengan aspal. Hujan turun rintik-rintik, menimbulkan corak bulat-bulat di atas jaket cokelatku.

Pukul tujuh tiga puluh malam. Begitu yang tertera di secarik undangan yang kemarin tiba di kantorku. Dua tahun berlalu, dan perasaanku ketika melihat untaian huruf penyusun nama itu masih sama. Jantung berdetak lebih cepat, perutku seperti mengalami diare emosional, kemudian aku akan mencoba dua kali lipat lebih keras untuk bisa tersenyum.

Selain tentang konstelasi dan foto orang-orang di taman setiap pagi, tidak ada lagi yang kami lakukan dua tahun lalu. Aku tetap menyukai gerakannya ketika menangkap momen dengan kameranya. Meskipun pada akhirnya dia tetap hanya mengencani kameranya yang setia. Setidaknya melebihi kesetiaanku. Ralat, aku sebenarnya bisa lebih setia, jika saja dia memintaku untuk itu.

Kudorong pintu kayu bergagang besi dan sebuah foto konstelasi besar berbingkai hitam menyambutku. Warnanya gradasi ungu, biru pekat dan hitam. Crux. Di sisi kiri, dengan ukuran sama, Orion menghiasi mercusuar putih yang tampak kontras dengan gradasi hitam, cokelat dan oranye. Di sisi kanan, Cassiopeia tampak berkilauan dan seketika aku menarik napas panjang. Juga berat.

Malam di luar pekat. Dan siapa sangka dari jutaan gambar yang diambilnya, milikku ada di tengah. Kau tentu tahu tengah, bukan? Pusat. Seperti matahari sebagai pusat tata surya. Dikelilingi ribuan bintang dan planet. Dan di antara pekatnya malam yang diterangi pendar dari bola lampu yang menyala remang-remang, wajahku dengan lipstik merah pekat terlihat berwarna, di antara puluhan foto hitam putih—terkecuali tiga foto konstelasi di depan tentunya.

Jika malam itu adalah dua tahun lalu, anak gadis dalam hatiku akan bersorak bahagia kemudian jantungku akan berdetak cepat, seolah berlomba untuk segera keluar dari tubuhku. Tapi malam itu, jantungku masih tetap berdetak cepat. Meskipun aku tidak bersorak seperti anak perempuan berusia dua puluhan tahun yang antusias ketika seseorang yang disukainya membuat dirinya merasa istimewa. Dan malam itu, meskipun aku bukan lagi seorang remaja ingusan, dia membuatku tetap merasa istimewa.

“Foto yang paling kusuka, jika kau ingin tahu.”

Aku menoleh. Dirinya bergeming di tempatnya. Tersenyum sekilas, tidak tampak begitu bahagia menurutku.

“Indah. Aku tidak tahu kau punya foto seindah itu, Rey”

“Karena sudah waktunya orang-orang melihat, Tar.”

“Tapi kau lupa, sepertinya ini sudah terlambat bagiku untuk melihat.”

“Kau harusnya dapat lebih sabar menunggu, Tara.”

“Dan kau harusnya dapat lebih dulu menyatakannya padaku, Rey.”

Rey tersenyum, meskipun lebih terlihat tulus dari senyum pertamanya, tetap menyakitkan bagiku. Bukan karena aku telah kehilangannya. Lebih karena aku tahu aku mungkin saja tidak akan kehilangannya kini, pun aku tetap tidak mampu menggenggamnya. Kemudian senyumannya menjelma menjadi rasa sakit yang intensitasnya bertambah beberapa kali lipat di hatiku.

“Dari ribuan foto yang pernah kuambil, yang paling kusuka ada di dalam sini. Sudah waktunya untuk dilihat, Tar. Mungkin dapat mengubah pikiranmu sedikit saja.”

Aku memutar cincin emas yang melingkar di jari tengah tangan kiriku. Tangan kananku terulur ke arahnya, meraih Nikon D7000 tua yang digunakannya dua tahun lalu, kemudian berjalan pelan melewatinya. Aku menjinjing kamera hitam tersebut dengan tangan kananku sambil menghela napas panjang.

“Terima kasih.” Aku berucap saat berhenti sejenak di sisinya sebelum akhirnya melanjutkan langkahku.

Mari kita lihat, apakah benda ini dapat mengubah pikiranku sedikit saja?

Sejujurnya, kuharap benda ini bisa.

fin.

A/N : Diikutsertakan dalam tantangan #NulisBarengAlumni @KampusFiksi dengan tema “Kamera”

Advertisements

4 thoughts on “Yang Tersimpan, Yang Terindah

  1. Duh, ceritanya menyesakkan. Padahal mereka berdua suah sedekat apaa gitu ya, eh malah kenyataan berkata lain.
    Aku suka karakternya, dewasa dan nggak memaksakan kehendak, jadi sepahit apa pun kisah mereka, dihadapi dengan tegar (mudah-mudahan nggak salah menyimpulkan)

    1. Ealaaaah, ami berkunjung balik. Hehehehhee.
      Terima kasih, ami.
      Kesimpulannya cukup betul lah. hehehe. Jadi, mereka memang tidak saling memaksakan kehendak.. hehe :D
      Yang penting ada perasaan masing2.. cieelaaah

  2. Aku sudah menduga kalau akhirnya bakal nyesek, tapi tak menyangka akan senysek ini. :'(
    Aku kira rey yang bakal nikah dulu atau punyan kekasih dulu atau apalah itu. Ah, tara. Sayang sekali padahal mereka sama sama suka.
    Btw, halo aku ila. Sorry aku ngga sapa sapa kamu dan tahu tahu aja sudah ngicipin salah satu karyamu. /ngumpet/
    Salam kenal dhamalashobita. Terimakasih atas suguhan karya cantikmu ini :-)

Your feedback is a gift

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s