Lewat Suara Lirih dan Setetes Darah

Lewat Suara Lirih dan Setetes Darah

by dhamalashobita

*

1:58

Kamar apartemen tanpa cahaya, gorden yang berkibar tertiup angin, beberapa bungkus keripik yang bertebaran dekat sofa lengkap dengan remahannya, botol-botol vodka kosong dan beberapa yang terbelah dua, dengan sisa-sisa likuid di lantai serta pecahan botol berwarna hijau dekat kaki Clair.

Duduklah ia di tepi sofa beludru abu-abu yang senada dengan ruang dingin apartemen laki-lakinya. Tangannya gemetar, penuh darah. Genggamannya pada sekeping pecahan botol vodka melemah. Tangisannya kian mengeras, tapi sedikit pun tidak berhasil merebut atensi laki-laki bermata biru yang kini duduk di tepi tempat tidurnya berbalut sprei putih.

“Diamlah!” Laki-laki itu angkat bicara pada akhirnya. Tetap duduk di tepi tempat tidurnya, mengabaikan Clair dan pergelangan tangan penuh darah. Tapi tangis Clair tidak pernah berhenti malam itu. Pun sampai laki-laki itu bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah Clair, meraih paksa pecahan botol di tangannya dan melemparnya jauh-jauh.

“Kau tidak perlu melakukan itu! Apa kau lupa tentang masih memilikiku? Oh, apakah eksistensiku sudah tidak lagi bermakna di matamu yang selalu terlihat menyedihkan itu?” Suaranya lebih keras dari pertama kali aku mendengarnya beberapa minggu lalu.

Tapi lagi-lagi kadar dopamin Clair selalu lebih mendominasi. Gadis itu tidak peduli suara keras, atau kadang pukulan yang dilayangkan laki-laki dengan iris biru itu. Clair tidak peduli bahwa semenit yang lalu ia mungkin tengah berusaha mengiris nadinya, karena sekarang ia melihat laki-laki itu di depannya. Tidak peduli laki-laki itu berdiri hanya dengan ekspresi marah di wajahnya dan baru saja membentak-bentaknya.

“Kau hanya perlu mengatakan padaku bahwa kau akan terus bersamaku, maka aku tidak akan melakukan sesuatu yang bodoh lagi,” ujar Clair lirih.

“Orang bodoh sepertimu akan selalu berbuat hal-hal bodoh! Oleh sebab itu kau butuh seseorang yang cerdas sepertiku. Gadis bodoh!”

“Oh, ya! Aku memang bodoh dan aku tidak pernah tahu jika jatuh cinta padamu adalah hal terbodoh yang pernah kulakukan! Oh, aku membencimu! Aku membencimu dan aku malah membutuhkanmu sekarang! Kurasa aku memang benar-benar bodoh!”

2:21

Gelegar halilintar mengagetkanku, membuatku bersembunyi. Seiring menggelegarnya suara amarah alam itu, tangis Clair pecah. Ada tamparan setelahnya, kemudian suara tangis yang kian mengeras terdengar di setiap tamparan yang menjajaki tiap inci permukaan pipi Clair yang mulai kemerahan. Tangisan Clair berganti menjadi raungan, berganti lagi dengan jeritan. Dan aku tidak mampu melihatnya dari jarak yang sudah kubuat sejak awal.

Ketika tangis Clair tak lagi terdengar, yang aku tahu adalah laki-laki bermata biru itu tengah melumat bibir Clair kasar. Membungkam jeritannya agar tidak ada yang mendengar. Dan diam-diam aku ingin bisa menghapus air mata Clair. Seperti hari-hari sebelumnya, hari-hari di mana aku membuat Clair tersenyum.

*

Clair tetap berakhir di kamar bernuansa abu-abu milik laki-laki bermata abu-abu itu. Berbalut kemeja panjang berwarna putih yang menggantikan blus cokelatnya yang penuh bercak darah semalam. Ketika berkas matahari menembus gorden, aku jelas terbangun lebih dulu, menyiapkan hari untuk Clair. Aku bahagia. Setidaknya pagi itu, si mata biru cukup jantan untuk mau membiarkan Clair tidur di tempat tidurnya, membereskan bungkusan-bungkusan keripik dan botol-botol vodka—baik yang masih utuh ataupun yang pecah dan berbalut darah kering Clair.

Dan ketika Clair membuka mata, tugasku adalah membuat afirmasi untuknya. Ada banyak kalimat positif yang kusiapkan sebelum tidur untuknya. Hari ini lebih baik dari kemarin. Semua kebahagiaan akan menjadi milikmu hari ini. Mimpimu akan terwujud ketika kau mulai membuka mata pagi ini. Dan kata-kata lainnya yang selalu berhasil membuat Clair menjalani satu hari lagi.

“Selamat pagi. Hari ini, mari kita cari gaun untuk Mom dan jas untuk Dad.”

Kau dengar? Seperti itulah aku berharap setiap pagi Clair akan bermula. Dengan senyum, sapaan hangat, semangat yang ia gunakan untuk menjalani satu hari itu. Dan pagi itu, aku tahu hari ini akan menjadi hari yang sangat sibuk untukku.

Bermula dengan setangkup roti yang Clair buat bersamaku untuk si mata biru yang entah berada di mana pagi itu. Kemudian trotoar-trotoar pusat Manhattan yang ia susuri bersamaku, karena ia begitu mencinta sinar matahari pagi. Dan terakhir langkahnya yang berhenti di sebuah toko gaun pengantin dengan deretan-deretan gaun beraneka ragam. Matanya membawaku ke arah sebuah gaun berpotongan A-line dengan bahan organdy, menggantung rapi di tengah-tengah etalase dalam toko, seolah-olah berperan sebagai pemeran utama di dalam sana.

Clair membawaku dan si mata biru itu ke dalam pikirannya ketika ia melihat gaun itu. Melangkah di atas karpet merah dengan bunga-bunga di kedua sisinya. Dengan ayah Clair yang menunggu di ujung karpet, juga laki-laki bermata biru itu. Hangat. Penuh senyuman. Sedemikian rupa aku menciptakan suasana itu untuk Clair. Sebelum satu bentakan seolah menendangku hingga terpelanting jauh. Dadaku sesak. Lagi, laki-laki itu melakukannya tanpa belas kasihan. Clair harus tahu seberapa besar aku membencinya.

“Tidak bisakah kau menemaniku mencari gaun? Bukankah kau juga membutuhkan jas?”

“Apa lagi? Kau tidak pernah bosan mengangguku rupanya! Sudah kubilang, kau itu gadis bodoh! Berhenti mencariku.”

“Bukankah kau bilang kita akan menikah? Kemudian rumah di tepi danau, tanganmu ketika kau meraih tanganku dari ayahku, anak perempuan kita.” Clair membalikkan tubuhnya, memunggungi gaun pengantin yang masih saja tergantung di tengah, menjadi pusat perhatian di sepanjang jalan yang padat itu.

“Kau bermimpi, gadis bodoh! Aku tidak akan semudah itu membiarkan dirimu dan anak perempuan—yang kau akui sebagai darah dagingku itu—merengut kehidupanku begitu saja! Laki-laki pintar sepertiku tidak butuh gadis bodoh semacam dirimu!”

Bagian diriku menghilang sedikit. Laki-laki bodoh! Aku merutuk, lagi dan lagi seiring pembicaran Clair dengan dirinya via telepon tersebut. Bentakan, air mata, isakan, getaran hebat tubuh Clair semua bercampur menjadi satu dan perlahan-lahan menguliti bagian-bagian diriku.

“Jangan pernah berharap aku akan menikahimu dan mengakui janin yang belum tentu milikku itu.”

*

Aku lahir dari suara lemah Clair ketika ia menyerahkan segalanya untuk laki-laki bermata biru itu. Tumbuh dari tiap afeksi yang berkembang dalam hari Clair setiap kali kecupan kecil dari laki-laki itu mendarat di dahinya. Perlahan-lahan menjadi semakin besar dengan kisah-kisah impian Clair tentang pesta pernikahan sederhana, rumah hangat di tepi danau, dan dua anak kecil yang akan menemani hari-harinya—tentu saja masih dengan laki-laki bermata biru itu. Masa-masa aku semakin bertambah besar adalah ketika Clair menemukan separuh diriku yang lain pada dua garis merah muda di testpack-nya. Setelah itu, Clair menemukan bagian-bagian diriku yang lainnya di hampir semua tempat.

Toko mainan anak, baju mungil berwarna kuning lembut, makanan bayi, kereta dorong untuk bayi, dan bahkan tempat duduk bayi di restoran favoritnya. Dan kebahagiaanku adalah ketika aku dapat bertambah besar dan memberikan yang terbaik di tiap hari-hari Clair.

Semuanya terasa indah sebelum laki-laki bermata biru itu memulainya.

Satu bentakan. Bertambah menjadi satu pukulan. Bentakan yang lebih keras, berujung dengan luka memar di sepanjang lengan Clair. Bentakan-bentakan yang tidak lagi bisa dikontrolnya, berganti dengan tamparan, dan memar lainnya di sepanjang tubuh Clair.

Satu per satu bagian tubuhku yang Clair temukan perlahan kini menghilang. Aku menyusut. Hari demi hari. Hingga nasibku bergantung di satu keping pecahan botol vodka yang terasa dingin di tangan Clair. Air dari shower terus menetes. Pakaian Clair sudah basah tak bersisa. Dan perlahan, ada sesak yang kurasa. Rasa perih dan dinginnya lantai terasa semakin menyedihkan untuk Clair. Gadis itu tak lagi menangis dengan suara. Satu tekanan lagi dan Clair akan benar-benar membunuhku. Habis. Pecahan botol vodka itu membuat garis di sepanjang pergelangan tangan Clair. Perlahan. Dalam. Sama sekali tidak sakit. Clair mati rasa. Dan aku mati bersama tetesan darah Clair yang terdilusi oleh rintik dinginnya air di lantai.

Oh, satu yang aku inginkan kali ini. Semoga akan ada orang yang membuatku terlahir kembali bersama Clair setelah ini. Tanpa pernah membunuhku sekalipun.

Ah, perkenalkan. Namaku adalah harapan.

Selamat tinggal Clair.

fin.

Author’s note : Cerita ini ditulis untuk memenuhi tantangan @qonrobovski dengan tema “PEMBUNUHAN”.

Jadi, ada yang ngerti ceritanya? Maaf ini gak begitu jelas :p

 

 

 

 

 

Advertisements

One thought on “Lewat Suara Lirih dan Setetes Darah

  1. hai malaaa x) ini kali pertama aku berkunjung ke siniii hehe, terus aku langsung tertarik sama yang ini gara gara judulnya. em em pertamanya aku pikir si aku ini semacam personifikasi dari benda eh tapi kayaknya bukan. terus aku pikir clair semacam punya dua kepribadian gituu eh taunya bukan jugaaa hahahaha. terus aku terenyuh banget pas baca kalimat kalimat terakhir. terus serasa benang merahnya ketarik gitu aja. pantes setiap detik bagian tubuh si “aku” ini hilang, apalagi pas clair nyayat tangannya pake botol vodka tu :” aku sukaaaaaa banget sama kalimat kalimatnya huhu baguuuus, mana cantik pula disusunnya sumpah ini my cup of coffee banget mal, heu kusuka sampe sejuta kali x) keep writing ya malaa hihi.

Your feedback is a gift

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s