Come Home

Rural cedar wood home in spring reflected in lake with blooming spring dogwood and wildflowers
Rural cedar wood home in spring reflected in lake with blooming spring dogwood and wildflowers (gbi.photoshelter.com)

Come Home

by dhamalashobita

Lagu itu tidak pernah sesyahdu lagu-lagu balada lainnya. Tidak ada suara orkestra ramai yang melatarbelakangi nada-nada berlirik tersebut. Suara tuts-tuts piano adalah satu-satunya yang terdengar di belakang suara Ryan Tedder di awal lagu. Itu pun hanya berupa chord yang dibunyikan bergantian. Bukan melodi-melodi balada romantik kontemporer seperti milik Yiruma.

Tapi, selalu ada yang bisa membawaku ke dalam dunia lain dari lagu itu. Dunia yang diam-diam sedang kuciptakan sendiri dalam imajinasiku.

*

Hamparan rumput luas, satu rumah bercat hijau mint tepat di depan danau. Ada undakan kayu sebelum tiba ke terasnya, kemudian kau dapat duduk di sana, sekadar menikmati riak-riak air danau yang berwarna kehijauan, atau mendengarkan kicauan burung yang berlalu-lalang bebas di depanmu.

Aku berjalan pelan dari kejauhan sebelum berhenti di bawah sebuah pohon mapel. Pundakku menggendong tas ransel besar. Isinya tidak banyak, hanya beberapa pakaian yang pernah kubawa keluar dari rumah. Ah, aku lupa mengatakannya. Di teras, ada sebuah kursi goyang dari kayu jati yang sudah dipelitur. Juga dirimu, seorang laki-laki paruh baya yang masih saja terasa tampan di mataku. Jemarimu memetik gitar tua, memainkan lagu pengantar tidur kesayangan gadis kecilmu. Sambil bernyanyi dengan suara sumbang yang seringkali membuatku tertawa.

Rasanya aku baru pergi kemarin sore, tetapi tak sadar ketika kembali, kau sudah tidak lagi sama. Tetap terlihat tampan memang, tetapi rasanya sulit untuk mendekat. Sebuah kaca tebal berdiri beberapa meter dari rumah, menghalangiku masuk sehingga aku diam-diam mulai menangis.

Aku ingin pulang kepadamu.

*

Tiap denting nada laksana pintu yang terbuka. Gesekan biola yang semula pelan, mengeras seiring jalannya lagu. Setiap nada yang terdengar sedikit dominan, membuatku seolah melalui sebuah check point. Lap pertama, kedua, juga ketiga. Begitu aku berhitung seiring dengan nada yang mengalun. Setiap kali si penyanyi mengakhiri chorus dengan kata-kata come home, tubuhku tertarik lebih jauh satu langkah. Dadaku penuh sesak. Seperti rindu yang lama kau tahan hingga tidak bisa lagi diungkapkan. Seperti cinta yang tidak bisa tersampaikan. Semakin kudengar detik demi detik melodinya, semakin ingin aku pulang. Tentu saja ke rumah di depan danau, dengan kau di dalamnya.

Tapi paruh kedua lagu memberikanku sugesti berbeda. Aku yang menunggumu pulang kini.

*

Aku tidak berani menduduki kursi goyang yang kau pelitur dengan tanganmu sendiri. Takut-takut jika kau kembali dan mendapati kursi goyangmu tak lagi kosong, kau akan berbalik dan pergi lagi. Jadi, aku memutuskan untuk duduk di kursi rotan kecil, yang juga kaubuatkan untukku. Aku sudah pulang sekarang, tapi ganti kau yang menghilang.

Kau sudah melewatkan nilai-nilai raporku sejak sekolah dasar, melewatkan piala lomba menyanyi pertamaku, melewatkan cerita tentang cinta pertamaku, dan melewatkan kidung-kidung yang harusnya kau nyanyikan sebelum aku tertidur.

Jadi sekarang aku ingin kau kembali.

Usiaku belum terlalu tua untuk dapat menceritakanmu cerita tentang cinta pertamaku, karena aku masih mengenangnya. Kau masih bisa menyanyikanku lagu sebelum tidur dengan gitar tuamu yang sudah tak lagi merdu. Kau bisa bergurau bersamaku lagi, mengayuh sepeda bersama ke kota ataupun memancing di danau sementara aku melukis potretmu yang tengah memancing dengan bahagia.

Dulu ataupun sekarang, rasa-rasanya aku butuh waktu lebih lama lagi untuk melakukan hal-hal bersamamu.

*

Klimaksnya berada di suara ricuh musik yang berbalut emosi penyanyi. Ketika itu, aku ingat apa yang menarikku pulang. Mimpi-mimpi dan kenanganku bersamamu. Kenangan memang jahat, bukan? Mereka mendominasi pikiran, dan melodi yang kudengar hanya sebuah simulasi. Tiap nadanya membuatku berimajinasi, dan berharap kau akan hadir dalam mimpi.

Sebelum lagu itu habis, aku menangis. Kenangan berhasil memonopoliku. Pun, sama halnya dengan rasa sesal.

Aku lupa, jika saja aku pulang lebih awal saat itu, mungkin akan ada waktu lebih lama untuk kita bersama, melakukan banyak hal-hal yang menyenangkan.

Nada terakhir selesai kudengar.

Datanglah dalam mimpiku malam ini, kita dengarkan lagu ini bersama-sama, dan bertaruh siapa yang memiliki rindu lebih dalam. Aku, atau dirimu.

fin.

A/N : Ditulis dengan prompt dari tantangan menulis #KampusFiksi minggu kemarin dengan tema #KataNada. Baiknya baca ini sambil putar lagu Come Home – One Republic ft. Sara Bareilles.

Advertisements

2 thoughts on “Come Home

Your feedback is a gift

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s