How Does It Feel?

urlHow Does It Feel?

by dhamalashobita

*

Pertama kali aku melihatnya menangis adalah saat pemakaman ibunya enam belas tahun lalu. Ditemani aroma tanah basah karena hujan satu malam sebelumnya, juga aroma embun yang menempel di dedaunan. Hari itu, hingga senja tiba, dia tak kunjung bangkit dari hadapan nisan ibunya. Yang dilakukannya hanya membuang air matanya sia-sia.

Sejak itu, dia mungkin lupa bagaimana caranya meneteskan air mata.

*

“Satu tahun lalu, kau bilang kau akan melupakan semua sakit hatimu dan melepas semuanya! Berhenti menyiksa dirimu dengan menyayat-nyayat tubuhmu dan hidup dengan benar! Oh, aku lupa, kau tak lebih dari seorang yang suka mengingkari janjimu, Airin. Lihat lenganmu! Kau tahu, aku muak melihat bekas sayatan di tubuhmu yang semakin bertambah setiap harinya!”

“Apa pedulimu?”

“Oh, perlu kuingatkan kalau-kalau kau lupa siapa yang selama ini selalu bersamamu?”

*

Enam belas tahun lalu, hari pemakaman ibu Airin.

 

“Keparat, kau! Berani-beraninya kau menangis di depan makam ibumu? Wanita jalang itu nyaris membunuhku, gila! Dan kau malah menyeretku ke penjara, dasar kau gadis sialan!”

Itu ayahnya. Gadis yang disebut gadis sialan itu Airin.

“Kau tidak bisa menjawab, hah? Kau berani memasukkan ayahmu ke penjara? Gadis tidak tahu diri!” Ayah Airin, dengan borgol di tangannya, meronta dalam jagaan ketat polisi pada kedua tangannya. Dan Airin tetap menangis tanpa henti.

Bagaimana denganku? Aku bersembunyi di balik pohon oak tak jauh dari makam ibu Airin. Aku ingin mendekat, tetapi nyaliku hanya seukuran kacang kedelai yang sering digunakan ibu Airin untuk memasak makanan-makanan enak.

Selang beberapa saat setelah ayah Airin digiring bersama para polisi, Airin tetap duduk memeluk nisan ibunya. Kuseret pelan langkahku, membawaku berdiri di depan gadis berambut kecokelatan ikal sebatas bahu. Aku ingin membawa tangis Airin pergi, atau minimal menukarnya dengan senyumanku. Aku rela melihatnya tersenyum meskipun aku harus diam-diam menangis.

“Kenapa kau masih di sini?” Airin mengeluarkan beberapa patah kata, membuatku terkesiap.

Aku berjongkok di depannya, mengusap air matanya dengan ibu jariku sebelum memeluknya erat-erat. Tapi percuma. Air matanya tidak pernah berhenti, mengalir di kedua pipi dan merembes di bagian bahu pada kaus hitamku. Aku tidak dapat melakukan apa pun kecuali menepuk-nepuk punggungnya pelan.

“Benar, kau tidak perlu bicara. Jika kau mempunyai ayah yang keparat dan ibu yang meninggal dunia karena dibunuh oleh ayahmu sendiri, kau tidak akan bisa bicara apa-apa. Kau tidak akan mengerti bagaimana sakitnya menjadi aku.”

Aku menghela napas pelan. Airin bilang aku tidak mengerti. Memang, tetapi melihatnya sakit saja sudah cukup membuatku sakit dan kurasa itu lebih dari sekadar cukup mengerti.

*

Delapan tahun lalu, kencan pertama Airin.

 

“Kau sudah pulang, Ai—”

“Sampai bertemu besok, Airin. Selamat tidur.”

Ucapanku bahkan belum selesai. Lengkungan di bibirku mendadak berputar arah. Sejak dua hari lalu, Airin sudah mengatakannya padaku, tentang kencannya dengan si pembalap populer di sekolah tetangga. Airin rela membeli jaket kulit dengan uang tabungannya yang rencananya akan ia habiskan untuk berlibur bersamaku.

Airin, dengan balutan jaket kulitnya yang mengilap di bawah lampu ruangan di depan kamarnya, kini mengecup mesra pipi laki-laki di depannya.

“Terima kasih atas waktumu, Airin,” bisik laki-laki itu dengan suara yang masih bisa terdengar olehku yang berjarak barang dua meter dari mereka.

“Waktu sebentar itu tidak akan cukup untuk kuhabiskan bersamamu, Dan,” sahut Airin.

Aku ingin muntah mendengarnya. Ayolah, dua belas tahun kami hidup bersama, dan ini pertama kalinya aku mendengar Airin mengatakan kalimat semenjijikkan itu di hadapan seorang laki-laki. Apa bagusnya laki-laki itu? Pembalap, salah satu pembuat onar di sekolah, playboy, dan menjijikkan.

“Sedang apa kau di sana?”

Lamunanku buyar ketika Airin menyapaku. Kikuk. Aku menggaruk tengkukku walaupun sama sekali tidak terasa gatal. Airin bodoh.

“A-aku sedang mencari udara segar! Ya, udara segar. Sana masuk ke kamarmu. Ini sudah larut.” Aku membalikkan tubuhku. Dua jam aku menunggu kepulangannya di depan pintu flat-ku dan aku harus puas dengan alibi mencari udara segar itu. Kutepuk keras-keras dadaku, menghilangkan sesak yang tak sengaja singgah. Laki-laki sialan dan Airin yang terlampau bodoh.

Tapi sebenarnya aku yang lebih bodoh. Jika sudah tahu hatiku akan sakit, mengapa tetap bersikeras menunggu?

*

Lima tahun lalu, patah hati pertama Airin.

 

Airin tidak pernah bersungguh-sungguh pada seorang laki-laki. Dari Senin hingga Kamis, ia bisa berganti pasangan sesering ia mengganti pakaiannya. Kencan pertamanya dengan Daniel tidak berjalan mulus. Kemudian Dyo, Pascal, Sam, dan sederetan nama-nama lainnya yang dapat kusebutkan satu per satu kalau saja aku tidak malas mengingatnya.

Sebanyak jumlah Airin berganti pasangan, sebanyak itulah aku mengalami patah hati. Namun bagi Airin, patah hati pertamanya terjadi pada Max.

“Airin, buka pintunya!” Aku menggedor pintu apartemen Airin, tidak ada jawaban. Terakhir kulihat, gadis itu pulang dengan ekspresi normal, tersenyum ke arahku yang diam-diam menunggu di depan pintu apartemenku yang letaknya hanya di samping miliknya, kemudian masuk ke dalam apartemen dan entah melakukan apa. Tidak ada satu balasan pun pada pesanku, tidak ada satu pun panggilanku yang diangkat dan kini aku mulai khawatir.

Selang satu jam, aku berpura-pura melupakan kata sandi pintu apartemenku dan menunggu petugas membukakan pintu. Setelah berterima kasih, aku berlari masuk, mencari Airin di kamarnya. Airin tidak ada di ruang santai, tidak ada di dapurnya, tidak ada di kamar.

“Sedang apa kau di sana?”

Aku tengah mengacak rambutku frustasi ketika suara Airin mengejutkanku. Pintu kamar mandinya terbuka dan ia melangkah keluar hanya dengan celana denim yang hanya menutupi kakinya sebatas paha, juga sehelai tank top hitam. Aku tidak dapat menjawab apapun namun memeluknya erat. Airinku yang malang, batinku.

“Hei, ada apa?”

“Kau yang ada apa, bodoh! Darimana kau? Mengapa kau tidak mengangkat teleponku, tidak membalas pesanku?” Aku mencecarnya dengan pertanyaan, memeluknya semakin erat. Airin tidak membalas, hanya meringis pelan, membuatku melepaskan pelukan.

Aku memang bodoh. Bisa-bisanya aku tidak menangkap sedikit pun luka sayatan di lengan Airin yang sejak tadi seharusnya dapat dengan jelas terlihat. Bukan hanya satu, tapi dua, tiga, lima, sepuluh. Begitu juga sayatan di pahanya. Semua terlihat seperti sayatan baru, masih basah. Beberapa menganga cukup lebar, beberapa hanya berupa sayatan tipis.

“Apa yang kau lakukan?” tanyaku.

“Kau sudah tahu aku akan melakukannya,” jawab Airin santai seraya melangkah kemudian duduk di tepi tempat tidurnya.

“Sudah kubilang, berhenti menyayati tubuhmu dengan silet atau menusuki tangan-tanganmu dengan jarum! Apa kau bodoh? Seorang gadis sepertimu harusnya cukup menangis ketika kau merasa sedih. Kau tidak perlu men—”

“Apa menurutmu menangis dapat membuat Max kembali kepadaku?” potong Airin.

“Apa menurutmu menyayat tubuhmu dapat membuat laki-laki bodoh itu menerimamu kembali sebagai kekasihmu?”

Tidak, Airin. Kau sudah tahu, semua laki-laki itu pergi karena mereka melihatmu seperti ini. Mengapa kau tidak melakukannya seperti yang biasa kau lakukan? Pura-pura jatuh cinta, kemudian tinggalkan mereka. Jadi kau tidak perlu merasa sakit hati seperti ini karena Max.

“Biarkan aku mengobati lukamu. Mungkin saja Max mau kembali jika lukamu sudah sembuh.”

Aku bertindak bodoh sekali lagi. Setelah nyaris setengah jam sama-sama menyelami keheningan, aku mengalah. Menyuapnya dengan harapan kosong hanya agar gadis itu bersedia untuk diobati lukanya.

Karena tiap sayatan yang berakhir di kaki dan tanganmu diam-diam akan membekas di hatiku, Airin.

*

Tiga tahun lalu, bagaimana rasanya sakit Airin?

 

Nyaris tengah malam dan Airin menyeret langkah menuju pintu kamarnya dengan pakaian penuh tepung. Rambutnya terikat, lengket dan basah. Bagian depan sepatunya rusak. Aroma tidak sedap menguar dari tubuhnya. Aroma telur busuk dan campuran tepung yang disimpan terlalu lama.

“Siapa yang membuatmu seperti ini?” Aku berlari, memapah Airin ke dalam kamarnya.

“Mereka kira aku mencari masalah dengan mereka dan membalasku seperti ini. Sudah biasa untuk orang populer sepertiku,” sahut Airin.

“Siapa?”

“Gadis-gadis populer bertubuh Barbie di kampusku. Jalang-jalang itu yang membuatku begini.”

“Kau harusnya membalas, Airin!” seruku seraya mendudukkannya di tempat tidur.

“Untuk apa? Jika aku membalas, aku tidak lebih baik dari mereka. Lebih baik diam dan pulang.”

Aku menghela napas, menggeleng pelan dan berlari mengambil handuk untuknya. Ini bukan kali pertama kudengar anak-anak di kampusnya melakukan penyiksaan semacam itu. Biasanya hanya tas Airin yang rusak, atau ban mobilnya yang mendadak kempis. Tapi kali ini sudah keterlaluan. Kulihat ada beberapa memar di sudut bibir Airin. Aku sudah bisa menjawabnya. Bekas tamparan gadis-gadis Barbie itu.

Setelah handuknya, aku juga mengambil kompres untuk bibirnya dan segera kembali menghampiri Airin di tempat tidur. Gadis itu duduk di ujungnya, menggenggam sebilah pisau kecil dan beberapa jarum suntik ia jajarkan di sampingnya.

“Kau bilang kau selalu ingin membantuku, bukan? Kau bilang, sakitku adalah sakitmu. Kau harus mencoba ini kalau begitu.” Airin menatapku nanar, sementara aku memutar mata. Kakiku bergetar. Aku tidak suka bermain dengan pisau, jarum suntik dan darah.

Airin membuka jaketnya, melepas celana panjang yang membalut kaki panjangnya dan menyayat kulit lengannya dengan pisau kecil di tangan kanannya. Ia tersenyum ke arahku. Aku meringis menatapnya. Satu kali sayatan lagi di lengan kirinya, tepat di bawah sayatan pertamanya. Kali ini lebih dalam hingga darah segar mengalir ke ujung jari-jari tangannya.

“Hentikan, Airin!” pekikku.

“Ini tidak sakit, percayalah,” sahutnya.

Oh, tidak sakit namanya bahkan ketika darahnya mengalir-ngalir liar di kulit putihnya. Belum lagi tusukan-tusukan keji yang ia layangkan ke pahanya sendiri. Satu per satu sayatan di lengan kirinya, berpindah ke kaki, hingga akhirnya ia berhenti setelah sudut tempat tidurnya, yang dilapisi sprei berwarna hijau, memerah seketika.

Airin berjalan ke arahku, dengan pisau yang ujungnya meneteskan darah-darah segar miliknya. Ia mendaratkan pisaunya di lenganku, membelai lenganku lembut dengan pisau kecil miliknya.

“Kau bilang kau akan sedih jika melihatku sakit, kau bilang kau tidak bisa melihatku sedih. Kini hatiku sudah terlampau sakit. Jadi kau setidaknya harus merasakan seperti apa yang aku rasakan. Sedikit saja.” Airin merajuk, memaksaku merasakan sakitnya.

Tubuhku bergetar hebat. Dinginnya pisau besi itu membuat sekujur tubuhku merinding. Aku tidak ingin mati. Aku tidak ingin melihat darahku. Aku tidak ingin…

“Kau sama sekali tidak sayang padaku jika kau tidak melakukannya,” ujar Airin lagi.

Kau tahu, saat kau mencintai seseorang, terkadang semua hal yang sebenarnya tidak mungkin terasa seperti mungkin. Akal sehatmu serasa tidak berfungsi, yang sebenarnya kau hanya sedang memperbodoh dirimu sendiri. Seperti itulah aku sadar bahwa mencintai seseorang lebih kurang adalah siksa. Dan seperti halnya aku menyadari itu, aku mengakui saat ini juga bahwa aku adalah satu dari sekian banyak makhluk bodoh yang dimabuk cinta itu sendiri.

Setetes.

Dua tetes.

Darahku terkumpul di lantai. Sama sekali tidak sakit memang. Pisau itu terlalu tajam, sampai-sampai membuatku kebas. Setelah itu, yang kulihat hanya senyum di wajah Airin. Syukurlah. Mungkin ini yang bisa kulakukan untuknya. Hanya ini.

“Mari kita lupakan semua sakit hati kita hari ini!”

Hanya karena aku menyayangimu, Airin.

*

“Kalau-kalau kau lupa padaku yang selalu menunggumu di depan apartemen ketika kau pulang larut malam. Memelukmu ketika kau kacau.”

“Aku tidak pernah merasa kacau.”

Airin melipat tangannya, duduk di tempat tidurnya seraya menatap lurus ke dinding di depannya.

“Oh betul sekali! Kau tidak pernah merasa kacau, Airin. Karena kau memang sudah kacau. Kau hanya berpura-pura tidak kacau.”

“Apa maumu sebenarnya? Apa masalahmu jika aku ingin memulai hubungan dengan kekasihku? Kau pasti merasa senang, bukan? Kau sahabatku, kau harusnya berbahagia untuk itu.”

Oh Airinku yang malang dan bodoh, hanya karena kau menganggapmu sahabatku, bukan berarti aku juga menganggapmu seperti itu. Aku orang pertama yang tahu kencan pertamamu, mabuk pertamamu, sayatan pertama di lengan kanan atasmu, bahkan aku orang pertama yang rela menyayat tubuhnya demi dirimu. Kau tidak pernah mengerti, Airin.

“Kau tidak pernah mengerti Airin,” ujarku lirih.

Airin terdiam, aku menangis. Ada jeda lama sebelum aku menghela napas untuk meredakan sesak di dadaku.

“Benar, kau tidak perlu bicara. Jika kau mempunyai perasaan yang kau simpan selama enam belas tahun untuk seseorang yang sama sekali tidak bisa kau gapai, kau akan tahu bagaimana rasa sakitnya hingga kau tidak bisa bicara apa pun. Kau tidak akan mengerti bagaimana sakitnya menjadi aku. Hanya karena kau menyukai semua laki-laki sedangkan aku sama denganmu. Kau tidak pernah tahu betapa tersiksanya aku belasan tahun ini. Hanya karenamu, Airin.”

Lagi-lagi, kuberikan jeda panjang setelah kalimatku. Sudah. Aku menyerah atas nama rasa sakit yang belasan tahun kurasakan sendiri. Aku hanya tidak ingin melihat gadis di depanku itu menangis, belasan tahun ia tidak menangis, membentuk sayatan di tubuhnya sebagai ganti tangisan. Belasan tahun ia bergantung padaku, membuatku merasa diandalkan dan pada akhirnya ia akan memilih satu di antara sekian banyak laki-laki. Dan aku?

Aku hanyalah satu di antara sekian banyak gadis di luar sana yang tidak akan memilih laki-laki manapun karena terlanjut candu pada gadis bernama Airin.

“Maafkan aku, Airin.”

Sebelum berlalu dari kamarnya, aku menoleh. Ada air mata dan suara isak tangis yang lolos dari mulutnya. Aku tersenyum, sambil berharap jika esok tidak akan ada bekas sayatan di tubuhnya. Selanjutnya, aku bisa bercerita tentang terakhir kali aku melihatnya menangis.

Tepat di hari aku mengungkapkan perasaanku padanya kemudian terpaksa meninggalkannya.

fin.

A/N : Diikutsertakan di tantangan #NulisBarengAlumni Kampus Fiksi dengan tema “SAKIT”

Advertisements

7 thoughts on “How Does It Feel?

  1. ” Aku hanyalah satu di antara sekian banyak gadis
    di luar sana yang tidak akan memilih laki-laki
    manapun karena terlanjur candu pada gadis
    bernama Airin.”

    in… ini gimana maksudnya sih eon?
    jadi ceritanya “aku” didalem cerita ini itu cewek yang suka sama sahabat ceweknya?
    woahhh, unpredictable banget >,<

  2. Mala…. seperti biasa… tulisanmu menghipnotisku. Kekeke…..
    Udah nebak sih dari awal waktu si ‘aku’ ini masuk ke kamar airin dan liat airin pake tank top ataupun pas airin copot celana. Kalo cewek ketemu sohibnya cewek udah ga malu2 lagi. Kekeke
    Keren mala… apalagi kamu pake alur maju mundur. Keren deh… keke

    1. Eh, Kak QQ beneran muncul. Hehehe. Makasih ya Kak sudah mampir.

      Bener, kalau dicermati sebenarnya dari awal bisa kebaca kalau dia cewek soalnya bisa bebas aja kan masuk-masuk kamar Airin. Hehehe. :D
      Makasih ya, Kak.

Your feedback is a gift

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s