Don’t Fall in Love with A Writer

source : iqchidowei@wordpress

Don’t Fall In Love With A Writer

by dhamalashobita

*

Jangan jatuh cinta pada penulis…

Layar komputer di depan Ann terpampang cukup lama, menyuguhkan program pengolah kata yang kini tengah menyita nyaris seluruh perhatiannya. Sudah hampir setengah jam ia berkutat di depan komputernya, mengabaikan sepiring nasi goreng di meja makan yang sudah mendingin karena jarum-jarum jam di dinding sudah melewati waktu makan siangnya. Pun, diabaikannya presensi laki-laki yang sejak pagi menemaninya di ruang apartemennya yang tidak luas.

“Siapa nama karaktermu, Ann?” Laki-laki yang terbaring di sofa putih milik Ann bertanya, sembari berkutat dengan permainan di ponselnya.

“Jill,” sahut Ann.

Dan Jill adalah seorang penulis.

*

Jill hanya suka berkutat dengan blog-nya sepanjang hari. Mungkin pada pagi hari ia tidak akan lupa untuk membersihkan diri, menghadiahi dirinya sendiri setangkup roti panggang berselimutkan selai nutella kesukaannya, selanjutnya ia akan menonton serial Gossip Girl yang tidak pernah selesai ditontonnya dan kemudian duduk di depan meja kerjanya yang sangat jauh dari kata rapi. Bukan hanya satu dua jam Jill duduk di sana, mungkin butuh tiga, empat, bahkan lebih sampai-sampai tak jarang ia melupakan makan siang. Dan kali ini, Jill mengabaikan Max, kekasihnya yang ia temui di kedai kopi milik Tuan Jim di ujung jalan ketika ia tengah menulis sebuah cerita tentang kedai kopi.

Jangan jatuh cinta pada penulis. Kalimat itulah yang kini membuat Jill duduk berlama-lama menatap layar komputernya.

“Kau tahu, Max, aku baru saja membaca artikel. Mereka bilang, jangan jatuh cinta pada penulis. Mereka mempunyai memori yang menakjubkan. Mereka selalu saja mengumpulkan materi untuk cerita-cerita mereka. Mereka akan membuat semua yang kau lakukan, katakan, dan pikirkan untuk masuk ke dalam rak-rak buku yang tersusun rapi dalam otak mereka. Mereka tidak akan segan melakukannya dan mereka tidak akan merasa bersalah sedikit pun[1],” seru Jill sambil membaca artikel yang lebih dulu disimpannya.

“Benarkah?” Max terdengar tak yakin pada kekasihnya.

“Penulis selalu mengubah pikirannya. Mereka mungkin saja tergila-gila pada naskahnya selama berminggu-minggu kemudian melupakannya hanya dalam dua hari. Penulis itu mudah bosan, Max. Jadi, mungkin saja suatu hari nanti, mereka akan bosan padamu[2].”

“Buktinya kau masih bertahan,”sahut Max sambil bangkit dari sofa, menatap Jill yang masih mematung di depan komputernya.

“Penulis membutuhkan pengalaman untuk menuangkan sesuatu ke dalam kata-kata, Max. Suatu hari mungkin mereka menyakitimu dan tidak menyesal sama sekali. Atau mungkin mereka akan sedikit menyesal, tetapi sesungguhnya mereka tidak, karena mereka tetap mendapatkan sesuatu dari hal itu. Kau akan membuat mereka frustasi dan kau hanya akan melihat mereka duduk diam dan menulis tentang itu semua[3].”

Jill mendesah. Tulisannya sampai di paragraf ketiga dan ia kehabisan akal untuk melanjutkannya. Ia putuskan untuk membalikkan tubuhnya dan menatap Max di sofa. Jill membentuk kurva dengan bibirnya.

“Yang jelas aku sudah memperingatkanmu, Max. Jangan jatuh cinta pada penulis…”

*

“Jadi kejenuhanmu selama ini karena kau seorang penulis, Ann? Biar kutebak, apa kau tengah haus akan cerita baru?”

Ann berhenti ketika sebuah suara terdengar dari belakangnya. Ia tidak ingin menoleh, karena ia tahu Ghiaz ada di belakangnya, tengah membaca apa yang dituangkannya pada dokumen Word di layar komputer.

“Ketika kau bilang temperamenmu sedang buruk, atau pesan ‘aku tidak ingin bicara denganmu dulu’, itu karena kau butuh sebuah pengalaman baru? Benar begitu?” Ghiaz lagi-lagi bertanya—pertanyaan yang sebenarnya sudah bisa dijawabnya sendiri.

“Mungkin saja,” jawab Ann santai.

“Ann, menurutku, peringatanmu sama halnya seperti ancaman kematian di iklan-iklan rokok. Aku membacanya, tersenyum, kemudian melanjutkan kegiatanku menghisap batang-batang rokok itu.” Ghiaz berjongkok di samping Ann, memutar kursi gadis itu hingga matanya yang terhalang lensa kacamata tidak lagi menatap layar komputer melainkan mata Ghiaz.

“Menurutmu, mengapa para perokok tetap merokok meski mereka membaca pesan di bungkus rokok tentang bahaya bagi kesehatan mereka? Bukan karena mereka candu, Ann.”

Ada jeda panjang setelah itu. Jeda yang diberikan Ghiaz pada Ann untuk menjawab, sekaligus jeda yang dijadikan Ann sebagai putaran waktu yang mengizinkannya untuk bertanya lewat mimik wajahnya.

“Lebih karena menurut mereka, di sana lah letak tantangannya, Ann. Sama seperti peringatanmu.”

Ann mengeluarkan senyum asimetris, melipat tangannya seraya menatap Ghiaz lekat-lekat.

“Yang jelas aku sudah memperingatimu, Ghiaz. Jangan jatuh cinta pada penulis.”

fin.

[1], [2], [3] dikutip dan diterjemahkan dari artikel milik Natasha Skoryk berjudul Why You Should Never Fall In Love With A Writer.

Picture credit : iqchidowei@wordpress

Terima kasih sudah membaca! : )

Advertisements

6 thoughts on “Don’t Fall in Love with A Writer

  1. Hi, aku mampir 😊
    Singkat tp mengena. Dan gaya menulis kamu… Ah, suka… 😄 dan sampai sekarangpun aku tetap menyebut diriku sbg fans nomor satuuu kamuuu hahahaha

Your feedback is a gift

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s