Lightless

source : thehornestnet@tumblr

“Lightless”

by dhamalashobita

*

Telepon kuno yang terletak di samping sofa tempatku duduk berdering tiga kali sebelum Kyle meneriakiku untuk mengangkatnya. Pada deringan keenam telepon itu berhenti berdering karena aku mengangkatnya. Sunyi. Tidak ada suara satu orang pun di sana, selanjutnya yang kudengar adalah kucing yang mengiau pelan.

“Tutup saja teleponnya. Paling-paling hanya salah sambung.” Kyle melingkarkan lengannya di bahuku dari belakang, mengecup pipiku sekilas dan membiarkan aku bergidik karena napasnya yang beritme lambat itu menyapu tiap inci kulitku.

Gadis itu melepas pelukannya, berjalan pelan dengan stiletto-nya dan duduk di sampingku, menyilangkan kaki jenjangnya. Gadis ekstrem. Begitu biasa aku menyebut kekasihku itu. Stiletto di dalam rumahnya, jaket kulit yang membungkus tubuhnya ketat, stocking hitam yang membiarkan kaki jenjangnya tertutup sebatas paha, dan rambut pirang acak tempat beberapa rantai stainless tipis saling terkait menjadi aksesoris.

Katanya ia menginginkan makan malam romantis. Aku sudah terlanjur sakau karena paras cantiknya, sampai-sampai setuju saja untuk datang ke rumahnya demi makan malam itu. Meskipun pada nyatanya ia mengundangku ketika batas cakrawala mulai kembali dibiaskan sinar beberapa jam lagi. Ketika semua manusia-manusia serakah di luar sana terbelenggu dalam buaian mimpi yang tak seluruhnya indah dan aku malah duduk di sampingnya, membiarkan matanya mencumbu mataku dengan tatapan liarnya.

“Bagaimana jika kita mulai makan malam?” Bibir Kyle yang semerah darah membuat kepalaku pusing sejenak. Jika bukan karena paras cantiknya dan intelektual yang dimiliki gadis itu, tidak akan aku setuju untuk menjalin hubungan dengannya gadis eksentrik macam dia.

Rumah Kyle lebih pantas disebut sebagai gudang. Dindingnya serupa bata dengan lampu temaram dan kobar api yang menyala di perapiannya. Ada jam kuno yang dipeluk dinding di ruang tengah dan jendela-jendela besar tak bergorden. Perabot di rumahnya dapat dengan mudah kauhitung dengan jari. Lengang, gelap, cukup untuk membuat bulu kudukmu berdiri.

“Kau tahu, Dan, mantan kekasihku meninggalkanku karena ia tidak suka pada apa yang kusuka.” Kyle menuangkan anggur merah ke dalam gelasku.

“Contohnya?”

“Seperti dandananku, gaya berpakaianku, kemudian rumah ini, dan semuanya,” jawab Kyle.

Ada sepiring steak di depan Kyle, juga di depanku. Makan malam—atau harus kukatakan makan pagi—akhirnya dimulai. Sempat kulirik jam dinding, pukul tiga pagi.

“Gaya berpakaianmu unik. Yah, setidaknya itu gayamu. Lagipula kau tetap mengenakan rok dan blazer ke kantor. Itu sudah pantas. Dan, umm, kau juga tidak mengenakan eyeliner yang berbeda ketika pergi bekerja, bukan?”

Senyum Kyle mengembang, sebuah senyum asimetris yang selalu membuatku terlena. Bagian terindah dari Kyle adalah senyum asimetris dengan tatapan tajamnya yang membuatnya selalu dinilai culas oleh semua orang di kantor, kecuali aku. Bagiku senyum itu adalah candu, yang membuat otakku nyaris tak lagi tahu caranya merespon sesuatu.

“Lalu, apa kau benar-benar mencintaiku, Dan?” tanya Kyle pelan. Jemari lentiknya yang dihiasi cincin dengan batu kecil berwarna merah darah bermain di tanganku yang tengah kuletakkan di meja.

Aku tersenyum. Bagaimana bisa seorang laki-laki yang tengah sakau sepertiku berkata tidak?

“Tentu saja,” jawabku. Tentu saja aku benar-benar jatuh cinta padanya. Laki-laki bodoh mana yang tidak jatuh cinta.

Tangan Kyle mengelus tanganku lembut. Sentuhan yang membuatku merasa lemas. Ditariknya perlahan telapak tangannya. Kyle ganti mengangkat gelas anggurnya di udara dan menaikkan sebelah alisnya sambil menatapku.

Cheers?” ujarnya pelan, sambil kubalas dengan gelas anggur milikku.

Alih-alih melepas dahagaku, anggur merah di gelasku membuat kerongkonganku mengering. Mataku menangkap lagi senyuman asimetris Kyle. Cepat-cepat kuletakkan gelas anggurku kembali di atas meja. Tanganku melemas, seperti tak ada lagi energi untuk sekadar mengangkat gelas. Pikiranku mengambang kacau. Satu sudut bibirku terangkat, kemudian turun dengan sendirinya. Aku ingin meracau, namun tak ada satu pun racauan tak koheren dalam otakku yang dapat bertransformasi menjadi sebuah kata-kata lisan. Sial. Kini dadaku terasa sesak. Mulutku bergerak, mencoba mencari asupan oksigen untuk tubuhku. Sulit. Kurasa aku tidak bisa bernapas lagi setelah ini.

“Efeknya tidak akan lama, Dan. Laki-laki bodoh sepertimu wajar menderita. Bersabarlah.” Kyle meletakkan gelas anggurnya, berjalan ke arahku, menggeser kursiku dengan susah payah. Ia duduk menyamping di pangkuanku, menyematkan cincin merahnya di jari manis kananku. Batu merah di tengahnya berkedip samar. Dicondongkannya tubuhnya ke wajahku.

“Aku tidak tahu kandungan apa yang terkandung di sana, tetapi penjualnya berkata racun itu tidak akan membunuhmu. Ia hanya akan menyiksamu. Sama sepertiku,” bisik Kyle.

Gadis itu bangkit, menekan saklar di dinding ruang makan. Seketika, lemari buku yang ada di sisi ruang makan terbuka. Di baliknya, ada sebuah pintu kaca yang membatasi sebuah ruangan terang. Sangat terang sehingga aku harus menyipitkan mataku.

Ada lima orang laki-laki di sana. Dengan setelan hitamnya, tangan mereka tergantung dengan rantai yang ada di langit-langit. Persetan, Kyle! Kutolehkan kepalaku dengan susah payah, mengamati polah-tingkah gadis itu yang kini bermain-main dengan sebuah remot di tangannya. Ditekannya satu tombol dan dua di antara lima laki-laki di dalam sana terlempar ke belakang. Satu tombol lagi dan wajah laki-laki yang lain terhempas ke kiri.

“Kau akan menikmatinya sebentar lagi, Dan. Laki-laki bodoh seperti kau dan mereka sama saja seperti mantan kekasihku. Kalian hanya menginginkan tubuhku, kemudian mencampakkanku di akhir. Laki-laki sepertimu kalian pantas merasakan cambukan virtual seperti itu,” seru Kyle seraya tertawa bengis dan menunjuk ke arah lima laki-laki di ruang kaca. Aku mengelak lemah tepat saat Kyle mencoba mengelus lembut pipiku.

“Kau tidak akan pernah bisa melarikan diri, Dan. Selamat menikmati penderitaanmu.”

the end.

P. Kerinci, 19 April 2015

Notes :

Memenuhi tantangan #FiksiRacun dari @KampusFiksi . Finally kali ini bisa menyelesaikan tantangan. Kangen ikut tantangan KF lagi. :)

Advertisements

6 thoughts on “Lightless

  1. aku kok kebayang fifty shades of grey ya? dan aku kira kyle itu cowok awalnya. hehe..
    aku sukaaaaa.. suka yg fantasi2 gini, meskipun ini terlalu dark. hehehe..
    keep writing ya, beb.. :*

Your feedback is a gift

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s