What’s Wrong?

Sometimes, some thing just happen all of a sudden and it doesn’t always work out like what we’ve thought it’s gonna be.

*

Terkadang, kita tidak pernah bisa mengerti mengapa sesuatu menjadi bukan yang seharusnya, menjadi sesuatu yang tidak kita harapkan sebelumnya, dan terkadang hal itu justru mengarahkan kita pada perdebatan panjang yang tak akan pernah selesai, pada satu tekanan yang menjalari setiap langkah tanpa mempunyai penyelesaian.

Memerintah pikiran sendiri untuk kebal pada sarkasme yang diucapkan sahabat yang dicintai, lebih rumit daripada harus memaki mantan kekasih yang menyakiti hati. Aku—dalam hal ini sebagai subjeknya—tidak pernah bisa membandingkan perasaan ini dengan perasaan kehilangan kekasih yang klise. Ada guratan rasa bersalah yang menghantui, bahkan ketika aku meyakinkan diriku sendiri bahwa tidak akan ada apa-apa, bahwa semua akan kembali membaik suatu hari nanti.

Sudah terpatri di benakku dan mendoktrinku sedemikian rupa—atau memang benar adanya seperti itu—bahwa aku adalah orang yang menyebabkannya terjadi. Aku memegang benda yang tidak begitu tajam, namun cukup untuk bisa mengikis tali tambang yang kami ikatkan erat, dengan satu ujung di sisiku dan satu ujungnya lagi di sisi mereka. Kali ini tali itu terkikis nyaris setengahnya dan aku berhenti mengikisnya kemudian pergi karena aku tidak mengerti apa yang harus kukerjakan.

Kataku pada diriku di cermin, aku harus bisa menanggung risikonya, tapi aku terlalu takut kehilangan. Dan ketakutanku akan kehilangan itu membuat hidupku dihantui rasa bersalah. Ah, ya, sebenarnya aku tidak takut mereka akan kehilanganku, karena aku bukan apa-apa, lagipula mungkin saja mereka sudah membekukan hatinya untukku. Ah, tidak. Mereka tidak akan begitu. Mereka hanya butuh waktu dan aku tidak bisa berbuat apa pun. Aku hanya bisa duduk, menunggu, dan berharap. Sementara aku tahu, semuanya tidak akan pernah kembali seperti biasanya lagi. Semuanya sudah berubah, persis seperti gelas kaca yang pecah dan tak’kan bisa kausambung lagi. Dan aku yang memecahkannya.

Jadi aku memilih diam, sehingga kini gelas itu masih terlihat baik dari luar, walau dari dalam, kau bisa melihat retakannya yang tak sedikit. Aku memilih diam, aku tak ingin membuatnya pecah berantakan lagi. Biarlah dari luar ia terlihat utuh, meski tidak akan bisa menjadi utuh secara sempurna lagi.

Aku ingin bertahan dalam keadaan ini, aku tak ingin bicara sepatah kata pun karena aku takut meretakkannya lebih lagi. Tapi aku tahu, aku sendiri tidak tahu sampai kapan aku dapat bertahan, sampai kapan aku bisa diam tanpa melakukan apa pun. Aku diam karena aku takut aku akan benar-benar kehilangan jika aku bicara. Aku terlalu rapuh, terlalu bergantung pada mereka, dan terlalu menyayangi mereka. Maka dari itu aku semakin rapuh kini, semakin yakin aku membutuhkan mereka, dan semakin tahu jika aku menyayangi mereka.

Tapi aku merasakan aroma gerbang perpisahan yang menakutkan, yang bisa menarik tanganku menjauh dari mereka kapan saja, memberikan kami jarak sedemikian rupa hingga tak lagi bisa bersama. Dan aku tidak tahu apakah kami bisa melewatinya? Atau malah menyerah tanpa berusaha mempertahankannya sama sekali.

 

Bandung, 20 April 2014

15.18

Advertisements

Your feedback is a gift

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s