Surat untuk Mantan

Tulisan ini diikutsertakan untuk lomba #suratuntukruth novel Bernard Batubara

*

Teruntuk seseorang yang tak pernah lekang.

Apa kabar? Terdengar klise memang, tetapi aku memang hanya punya dua kata itu untuk dijadikan kalimat. Semua kata-kata yang kususun mendadak hilang ketika mendengar namamu. Kalimat ini terdengar begitu baku, bukan? Harusnya surat yang kutulis tidak sebaku ini, tetapi aku berpikir apakah bisa kita seperti dulu? Kurasa tidak. Semuanya berubah sejak kau mengubah kata ganti aku-kamu menjadi saya-anda.

Kalau aku tidak salah dengar, kita masih berada di kota yang sama, menghirup udara yang sama, tetapi apa kita masih berharap hal yang sama? Apa kita masih melihat kenangan yang sama? Rasa-rasanya tidak.

Jika boleh aku berkata rindu, aku merindukan semuanya. Aku rindu guratan pensilmu yang mengukir namaku di kertas putih polos. Aku rindu racauanmu ketika aku menghabiskan waktu lebih lama bersama teman-temanku dibandingkan denganmu. Aku rindu panggilan sayang darimu. Aku rindu pertengkaran kita tentang kegiatanku, aku rindu masakanmu, aku rindu membantumu mengerjakan pekerjaan rumah, aku rindu semua pesan singkat yang begitu manis untuk disimpan dalam ponselku. Dari semuanya, sebenarnya aku hanya merindukanmu. Sesederhana itu.

Bagaimana kabar mama? Bagaimana kabar adik dan kakakmu? Aku ingin sekali bertanya itu. Kamu ingat, kamu belum sempat mengenalkanku pada Beliau. Bahkan ketika kamu sudah bercerita bahwa aku adalah kekasihmu, bahkan setelah kita tidak memiliki hubungan lagi. Aku ingin berkenalan dengan mama jika aku bisa kembali ke masa lalu.

Ah, tidak. Jika aku bisa kembali ke sana, aku ingin menjadi sosok yang lebih dewasa. Aku ingin mengubahnya. Bisakah? Aku ingin menurutimu saja. Lagipula jika aku teliti lagi sekarang, kamu tidak benar-benar mengekangku. Kamu hanya merasa insecure, kamu hanya tidak ingin kehilanganku dulu. Begitu, bukan? Jika aku bisa, aku ingin berusaha mengerti. Berusaha mencari tahu alasan dari apa yang kamu lakukan padaku.

Tapi bagaimana bisa aku kembali? Kamu sudah hidup di jalanmu sendiri. Bahkan aku tidak pernah sekali pun tahu apakah kamu memikirkanku seperti aku memikirkanmu? Jika sekarang aku menganggapmu cinta pertamaku, apa kau menganggapku cinta pertamamu juga? Jika kau diberi kesempatan untuk bertemu denganku, apa kau ingin melakukannya? Karena aku ingin bertemu denganmu jika kesempatan itu ada.

Sesakit apa pun hati ini ketika mengenangmu, seingin apa pun aku kembali padamu, kurasa aku tidak akan bisa melakukannya. Kita memang berada di bawah langit yang sama, menghirup udara yang sama. Aku masih sering melihatmu muncul di daftar online messengerku, tapi tidak pernah berani menyapamu. Aku melihatmu, tapi tidak tahu bagaimana kabarmu. Aku tahu kau di sana, tapi tak pernah berani berjalan ke arahmu.

Sesakit apa pun rasanya untuk mengingatmu, aku akan selalu melakukannya. Karena aku tahu, memori terindahku adalah kamu. Tidak akan tergantikan. Hidup baik-baik di sana, karena kini aku tidak lagi di sisimu.

Teruntuk dirimu, laki-laki yang pernah singgah dalam hidupku dan memberikan warna paling terang di sana. Laki-laki yang masih mampu membuat air mataku jatuh ketika mengenangmu. Laki-laki yang pernah dan selalu kukasihi. Terima kasih pernah menyukaiku, terima kasih pernah menjadikanku seseorang yang berharga dalam hidupmu, terima kasih sudah menjadi laki-laki yang pernah begitu menyayangiku, terima kasih karena sudah menyita sebagian tempat di hatiku.

*

 

Advertisements

Your feedback is a gift

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s