The Room

writingprompts

“The Room”

by dhamalashobita

*

Tempat tidur berseprai soft pink itu menampung beberapa bantal kecil di atasnya. Seluruhnya bantal berbentuk segi empat, dua dengan sarung berpola polkadot dengan warna senada, dan satu bermotif bunga-bunga. Acak. Letak mereka tidak beraturan di sana, malah hanya berada di ujung tempat tidur, nyaris jatuh jika terkena goncangan sedikit saja.

Langkah kaki Bev terseret berat ke samping tempat tidur, tangannya menyibak tirai yang celahnya meneruskan cahaya matahari yang bersinar di luar. Gadis berambut ikal sepanjang pinggang itu menyibak seluruh tirai kemudian membuka jendela kamar itu lebar-lebar. Wewangian embun pagi yang menempel di dedaunan menguar di udara, membuat Bev juga menghirupnya kemudian membuka kembali memoarnya tentang cerita cinta yang kini telah lapuk.

Bev menggenggam rambutnya menjadi satu, menyampirkannya ke depan, melewati bahu kirinya. Ia tertatih menyambangi tempat tidur, meraih pigura di atas nakas dan mengelus permukaannya perlahan. Ada sosok Bev di sana, beberapa tahun silam, ketika rambut ikal sepinggangnya masih berada di batas bahu. Ada sosok laki-laki di sampingnya, tengah merangkulnya erat, begitu dekat. Dia Khun.

*

“Bangun, dear. Kau tidur hampir 10 jam hari ini. Apa kau begitu lelahnya hingga mampu tertidur selama itu?”

Bev mengerjap ketika ia merasakan sentuhan di dahinya. Matanya mengerjap. Biasanya ia akan mendapati dada bidang Khun di depannya, sementara satu tangan laki-laki itu akan menjadi bantal bagi kepalanya dan tangan lainnya dengan lembut menyampirkan poni Bev ke samping. Deru napas Khun yang Bev dengar ketika ia membuka mata seolah terdengar seperti ritme unik yang mampu menghipnotis paginya menjadi lebih baik.

“Aku sudah bangun karenamu.” Bev selalu menanggapi laki-laki itu dengan lembut, suaranya pelan dan terdengar manis. Bev mengesetnya sekian rupa agar suaranya terdengar romantis di telinga Khun. Lalu selanjutnya laki-laki itu akan mengecup keningnya mesra. Candu. Semua yang dilakukan Khun adalah candu bagi Bev, tidak terkecuali.

“Jam berapa? Aku harus bekerja, Khun.” Begitu sanggah Bev ketika Khun mulai merambahi bagian lain wajahnya, mengecup kelopak matanya, pipinya, kemudian berujung dengan kecupan kilat di bibirnya.

“Ini hari Minggu, Bev. Bukankah lebih baik jika kita bersama di sini sedikit lebih lama? Kemudian siang nanti aku akan memasakkanmu makan siang dan kita akan pergi ke Pattaya sore nanti,” tawar Khun. Dan seketika, Bev tahu ia lemah. Ia tidak akan bisa menolak saran Khun. Seperti seekor anjing yang terlampau setia pada tuannya. Tidak. Bev tidak dapat disamakan dengan hewan, ia jauh lebih setia.

“Bev, apa yang ingin kau makan hari ini?” tanya Khun.

“Apapun. Asalkkan kau yang memasakkannya untukku, aku akan memakannya,” jawab Bev. Gadis itu bergerak, mendekat ke arah Khun seiring laki-lakinya mengeratkan pelukan. Bev menyukai aroma Khun, aromanya seperti air hujan yang pertama kali bersentuhan dengan tanah, segar, menenangkan.

Kemudian mereka akan bercerita mengenai impian masing-masing. Membeli cincin emas yang sederhana, momen lamaran di tepi pantai, sakralnya pernikahan, dan dua anak yang berlarian di halaman rumah. Bev dengan impiannya memiliki anak perempuan yang akan diajaknya berbelanja tiap akhir pekan dan Khun yang berharap bermain musik bersama setiap hari dengan anak laki-lakinya. Setiap orang yang mendengar impian keduanya pasti akan merasa iri pada mereka. Karena impian itu terlalu sempurna.

*

Bev tersentak, sedikit mengerjap sebelum akhirnya ia membuka matanya sepenuhnya. Tubuhnya terbaring dengan blazer katun berwarna pastel, memeluk bantal segi empat bermotif bunga yang ada di tepi tempat tidur. Pigura yang membingkai apik potretnya dan Khun berada di pelukannya. Bev beringsut, mendekatkan kepalanya ke ujung tempat tidur, memandang lurus ke depan, ke arah langit-langit yang biasa ditatapnya ketika berangan bersama Khun.

Tidak ada Khun di sana sekarang. Tidak ada mimpi-mimpi yang sempurna, tidak ada kecupan hangat dan aroma menenangkan yang menguar dari tubuh Khun. Tidak ada sapuan tangannya pada rambut ikal Bev. Tidak ada satu pun yang tersisa kecuali bayangan semu yang tidak pernah mempertemukannya lagi dengan Khun.

Barusan Bev hanya bermimpi, menikmati bunga tidurnya yang singkat. Otaknya hanya mencari celah antara memori dan rasa hati yang masih tersisa pada dirinya. Mengubahnya menjadi suatu biasan kenangan yang dianggap nyata. Bev menyunggingkan senyum tipis seraya memandang langit-langit kamar. Ia berada di kamar Khun yang dulu digunakan untuk mengumbar kemesraan dengannya.

Honey, kau sudah siap? Pesta Khun akan segera dimulai. Kau tahu, Danniel terlihat sangat senang berada di sana bersama Khun.” Seorang laki-laki bermanik biru berdiri di ambang pintu lengkap dengan setelan hitam necis yang dipadankan dengan dasi cokelat tua bergaris.

“Apa ayah dan ibu datang?” tanya Bev pelan seraya merapikan tatanan rambutnya, bangkit dari tempat tidur merah jambu yang menguak memori lama untuknya.

“Sulit untuk menerima Khun seperti ini, Bev, kau harus mengerti. Jika kau saja belum bisa menerimanya, kau pikir bagaimana dengan orangtuanya? Terlebih mereka menginginkanmu menjadi menantu mereka, bukan Danniel.” Laki-laki itu mengakhiri kalimatnya dengan senyuman, sembari melingkarkan tangannya ke pinggang Bev yang kini sudah berada di ambang pintu, tepat di depan laki-laki itu.

“Jangan mulai, dear. Kau juga tahu jika aku sudah dapat menerima keadaannya. Dan jangan ungkit masa lalu lagi. Aku punya kau sekarang, dan please, jangan meninggalkanku seperti Khun. Aku tidak ingin menjadi tameng para laki-laki seperti Khun lagi. Cukup sekali aku merasakannya.” Gadis itu tersenyum. Seiring senyumannya tersungging, memoar itu menguap, berubah menjadi abu dan tertiup semilir angin yang berhembus dari jendela yang terbuka lebar. Menghilanglah sudah segala tentang Khun. Bagi Bev, manisnya kenangan bersama Khun hanya akan disimpannya di kamar itu. Sudah ada yang menantinya sekarang, untuk sebuah memori baru yang lebih nyata.

“Aku berjanji, aku bukan Khun. Kau tidak percaya bahkan ketika aku sudah mengucap sumpahku di depan Kristus? Demi Tuhan, Bev. Aku harus melakukan apa agar kau percaya?” protes laki-laki itu, suami Bev. Namanya Ken.

“Tidak ada. Aku percaya padamu karena kau tidak akan melanggar sumpahmu di depan Kristus. Kurasa kita harus bergegas, dear. Khun membutuhkan kita.”

fin.

p.s. I wrote this because of the picture above. I’ve found it at Google Images. :D

This is maybe not my best short story, but still, thank you if you mind to appreciate it. :)

Advertisements

4 thoughts on “The Room

Your feedback is a gift

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s