Dear Tulip Hitam

tumblr_mqx1bgHt9m1rmlntoo1_400

Dear Tulip Hitam,

Apa kabar? Ingin aku melontarkan pertanyaan itu kala matamu dan mataku saling bertumbukan kemarin. Kau masih sama seperti yang dulu—sebelum aku memutuskan pergi. Anggap saja aku yang pernah hadir di hidupmu sudah mati—meski sebenarnya aku belum benar-benar mati.

Dulu kita pernah bersama-sama di padang rumput yang luas. Bersama mencari cahaya matahari dan menantikan hujan turun kala malam. Dulu kau dan aku—kita—bersama-sama menggenggam senja di permadani kehijauan yang biasa kita puji-puji.

Kita tidak pernah tahu apa yang akan datang ke dalam kehidupan kita dan apa yang akan menghilang—pergi dari hidup kita selamanya. Seperti aku. Aku pergi dan mungkin tidak akan kembali. Kemudian di suatu hari yang baru, ketika lama sudah tak pernah kita bersua, aku melihatmu lagi. Tulip hitamku masih seperti dulu. Tidak. Kau bukan lagi tulip hitamku yang dulu. Aku bukan lagi pemilikmu.

Jalan takdirku dan kamu—kita—memang seperti ini. Jangan lagi hadir di sampingku, karena aku akan menatapmu tepat ketika aku memalingkan wajahku. Jangan lagi hadir di depanku, karena aku akan memandangi punggungmu dari kejauhan. Jangan lagi hadir di belakangku, karena aku akan kerap menoleh dan mendapati matamu di sana.

Tulip hitam, mekarlah selalu. Hanya dengan itu nyeri di hatiku akan terasa lebih berharga. Kau dan aku, akan bertemu dengan malaikat yang akan menyembuhkan kita.

Bandung, 6 September 2013

Advertisements

Your feedback is a gift

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s