[Cerita Pendek] Path of Love Series – Rose Petal

[Poster] Path of Love - Rose Petal

Author’s Note : Halo para pembaca sekalian. Sedikit bercerita tentan Path of Love Series sebelum kalian baca seri pertamanya. Path of Love Series itu proyek yang aku bikin sendiri untuk menantang diri aku sendiri. Terinspirasi dari Seri #STPC milik Gagas Media dan Bukune, aku ingin membuat cerita dari berbagai kota di Indonesia yang aku suka. Makanya namanya ‘Path of Love’. Tapi setelah menyelesaikan seri pertama, sepertinya goal si Path of Love ini agak nanggung. Tapi biarlah, abaikan latar belakangnya saja. -__-

Semua cerita yang masuk ke dalam Path of Love Series berupa cerita pendek dengan tema yang tak lekang oleh waktu–CINTA. Ini bukan cerita bersambung tapi kumpulan cerita-cerita pendek, yah tidak menutup kemungkinan di dalamnya akan ada keterkaitan antara seri satu dengan seri lainnya. Oke begitu saja cuap-cuapnya. Enjoy the story and feel free to drop your comment below. Thanksseu~ :)

Song of The Story : Kahitna – Mantan Terindah

– DhamalaShobita’s Storyline © 2013 –

***

“I am that faded petal, crushed under your foot. And she is your perfect rose, freshly cut.” – Hannah Kelly

***

Namanya Rifat. Cinta pertamaku. Rasanya semua orang memang tidak akan pernah bosan ketika membahas cinta pertama mereka yang selalu saja dianggap sebagai suatu keindahan. Kata orang, kita tidak akan bisa melupakan cinta pertama kita dan kurasa perkataan orang-orang yang memang mainstream itu ada benarnya. Kuragukan hati seseorang jika mereka bilang mereka sudah lupa siapa cinta pertama mereka. Cinta pertama memang tidak selalu berkesan tapi setidaknya, ada warna berbeda yang berani mereka—cinta pertama kita—suguhkan ke dalam satu per satu alur kehidupan kita.

Sama seperti Rifat. Laki-laki yang sama sekali tidak mengesankan. Laki-laki paling tidak menarik dalam sejarah percintaanku. Laki-laki paling biasa dari segudang laki-laki luar biasa yang mungkin saja bisa kudapatkan. Tapi Rifat berbeda. Jangan tanya padaku di mana letak perbedaan Rifat dengan laki-laki lainnya karena aku hanya akan menjawab ‘karena Rifat tidak dapat disamakan dengan laki-laki mana pun’.

Lepas beberapa tahun setelah hubunganku dan Rifat berakhir, maka sosok itu seperti hilang tertelan bumi. Mungkin ia masuk ke bumi lapisan keberapa puluh atau mungkin diterbangkan ke langit lapisan keseratus. Aku tidak tahu. Satu-satunya yang kutahu adalah aku tidak pernah menemukan jejaknya. Jangankan nomor ponsel pribadinya, bahkan saat kucoba mencari namanya di situs pencarian Google pun tidak ada. Elrifat Prawira.

Tapi Tuhan berkata lain. Ia mengirimkan Rifat padaku. Lagi.

“Rose!” Suara bass khas milik Rifat terdengar merdu di telingaku, membuatku ingin cepat-cepat berpaling dan melihat ke arahnya. Tapi setelah aku berpaling yang kulakukan hanyalah melambaikan tangan ke arahnya seraya tersenyum.

Setengah berlari Rifat membawa dirinya sejajar dengan diriku, mata kami sama-sama menatap garis cakrawala pemisah laut biru dan langit yang seolah dihiasi gumpalan kapas. Dari balik salah satu gumpalan yang paling besar, bersembunyi si raksasa jingga—matahari. Langit yang berwarna biru cerah kini memang sudah berganti menjadi lebih gelap dan mengharuskan matahari itu bersembunyi.

“Akhirnya kesampaian juga lihat sunset,” komentar Rifat datar. Ia membetulkan letak kacamatanya tanpa menoleh ke arahku.

“Kamu nyindir aku?” godaku. Seingatku, aku adalah orang yang paling ingin melihat sunset di Lombok, bukan Rifat.

“Dari dulu kamu nggak berubah ya, Rose.” Kali ini Rifat menatapku saat menyebutkan kalimatnya. Tatapannya sendu, sayu tapi penuh emosi.

Aku memang tidak berubah, tetap berambut panjang sebahu dan ikal—tanpa embel-embel treatment rambut yang dewasa ini sering dilakukan para gadis seusiaku. Tetap suka mengenakan kaus polos dengan model v-neck kemudian melapisinya dengan kemeja denim. Tetap bermimpi bahwa aku akan dapat menikmati keindahan Lombok, berjalan di sepanjang Pantai Senggigi dan melihat raksasa jingga itu bersembunyi saat senja mulai tiba. Definisi ‘tidak berubah’ yang dimaksud Rifat adalah sejak terakhir kami bersama di bangku akhir sekolah menengah.

“Kamu yang berubah.” Aku memberanikan diri mengatakan tiga kata itu dari mulutku.

Life has changed, Rose.”

Aku tertawa kecil mendengarnya. Life has changed. Hidup memang berubah tapi mungkin saja ada bagian hati yang tertinggal untuk ikut berubah sehingga ia masih tetap di sana. Terdiam sendiri dan kesepian di kala semua di sekelilingnya sudah berubah.

“Jadi bagaimana perasaan kamu sekarang? Sudah lebih lega karena kamu sudah mengunjungi pantai dan terlebih lagi ini Lombok.”

Aku tersenyum menganggapi ucapan Rifat tapi kepalaku enggan menoleh ke arahnya. Ia tahu perihal aku datang ke pulau yang cantik ini. Alasan bodoh yang tak pernah ingin aku ingat lagi. Tiap mengingatnya maka arsip yang tersimpan di otakku akan membahas kembali rentetan peristiwa yang membuatku merasa sangat bodoh. Jangan lupa tambahkan kekanakan. Kabur dari masalah merupakan salah satu tingkah kekanakan bukan?

“Seperti yang kamu lihat. Lombok bisa menyembuhkanku.”

Bukan Lombok dan pantainya sebenarnya. Tapi kamu.

“Syukurlah. Aku berpikir mungkin kamu bisa saja bunuh diri ketika aku tidak menemanimu bersantai di pantai.”

“Jangan gila! Kamu nggak setahun dua tahun kenal aku dan kamu tahu sendiri aku nggak sebodoh itu, Rif,” sanggahku. Tidak terima Rifat mengatakan bahwa aku bisa saja bunuh diri—hal yang tidak akan mungkin kulakukan.

“Jadi kamu sudah siap berbagi denganku?”

“Sepertinya harus ditunda. Aku ingin kembali ke hotel dan mandi sebentar.”

“Aku tunggu saat jam makan malam kalau begitu.”

**

Kemarin seseorang menyapaku saat aku baru saja duduk di kursi penumpang pada salah satu maskapai penerbangan yang membawaku ke Lombok bertolak dari Jakarta. Seseorang yang memegang tiket bernomor kursi tepat setelahku. Seseorang yang membuat jantungku berdetak cepat. Seseorang yang membuatku melupakan mantan kekasih yang baru saja membuangku begitu saja. Seseorang yang tidak pernah kusangka. Seseorang itu, Rifat.

Aku mengetuk pintu kamar hotel Rifat sekali. Entah kebetulan atau memang seperti ini takdir mempertemukan kami kembali, aku dan Rifat menginap di tempat yang sama, dengan jarak kamar yang tidak terlampau jauh. Hari ini aku sedang tidak ingin makan malam seorang diri. Karena waktu menyepiku sudah kuhabiskan kemarin. Bukankah kita tidak boleh lebih lama bersedih?

Suara daun pintu di depanku terbuka dan menyembullah wajah yang memang kuharapkan. “Tunggu sebentar ya, Rose. Aku ganti baju dulu,” ujarnya, dibalas dengan anggukanku.

Tak sampai setengah jam, Rifat keluar dari kamarnya dengan Polo t-shirt putih yang menambah wibawa dari dalam dirinya. Rambutnya yang masih sedikit basah membuatnya tampak lebih segar walau waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam.

“Jarang ada perempuan seperti kamu,” ujar Rifat memecah keheningan di sepanang koridor hotel.

“Aku? Ada apa denganku?” tanyaku penasaran.

“Jarang ada perempuan yang mau diajak dinner jam delapan malam, malah kalau nanti kita sampai tempat makan aku rasa akan lebih dari jam delapan,” jelas Rifat.

“Aku pengecualian.”

Ada tawa terselip di antara percakapan kami. Ditambah lirikan-lirikan yang kucuri dari sela pembicaraan kami. Rifat sengaja memilih pedagang makanan kaki lima di depan hotel karena perut yang sudah tidak mampu lagi diajak berkompromi. Tidak masalah bagiku, karena aku sudah tahu kebiasaan Rifat dalam hal makanan. Tidak berubah sedikit pun.

Masih dengan menu yang sama, nasi goreng seafood tidak pedas. Dengan pesanan minuman yang sama, teh manis hangat. Tidak ada yang berubah sedikit pun dari selera makan Rifat. Juga dari bagaimana laki-laki di depanku itu menghabiskan pesanannya. Cepat dan tak bersisa. Semua kebiasaannya masih teringat jelas dalam benakku, belum terkikis oleh tajamnya waktu. ‘Life has changed’ yang dikatakan Rifat kemarin bukan tentang selera makannya. Aku tahu.

“Jadi bagaimana ceritanya?” pancing Rifat ketika aku baru saja akan melahap sendok nasi goreng terakhirku. Kutunda sejenak suapan itu kemudian tersenyum menatap Rifat. Senyum Rifat juga ikut mengembang. “Makan dulu saja. Setelah itu baru cerita.”

“Aku putus sama pacar…ups, I mean mantanku yang terakhir,” jelasku setelah akhirnya menghabiskan nasi goreng di sendok terakhirku.

“Alasannya? Dia nyakitin kamu?”

He found another perfect rose.

“Tapi kamu the one and only Rosely.” Kata-kata Rifat membuatku seolah tersihir beberapa detik. ‘The one and only Rosely’ adalah julukannya untukku—tentu ketika kami masih bersama dulu.

“Buktinya dia bertemu yang lain.” Aku tertawa kecil, menertawakan diriku sendiri. Dari hasil perenunganku kemarin, aku menyimpulkan bahwa apa yang terjadi padaku atau apa yang dilakukan oleh mantanku—namanya Dewangga atau panggil saja Dewa—adalah murni karena kesalahanku. Mungkin aku terlalu sibuk, terlalu pemilih, menyebalkan, bawel, atau apa pun. Meskipun aku tidak bisa sepenuhnya menganggap Dewa itu benar.

“Dia nggak pantas untuk kamu berarti,” ucap Rifat.

“Bagaimana jika aku yang ternyata nggak pantas buat dia?” Aku membalik pernyataan Rifat menjadi sebuah tanya.

“Kamu pantas untuk semua laki-laki manapun, Rose.”

Bullshit. Itu yang aku tahu dari semua laki-laki. Mengapa mereka harus berkata manis seperti itu di depan wanita? Mana mungkin aku pantas untuk semua laki-laki? Jika memang iya, maka bisa kupastikan Rifat dan aku masih bersama sampai sekarang.

“Kata-kata manis yang menghibur itu sudah nggak pengaruh buat aku, Rif. I’m twenty third now,” ujarku. Rifat kali ini tertawa menanggapinya, mungkin merasa malu karena rayuan gombalnya tidak bisa masuk ke dalam hati dan otakku.

“Jadi? Apa orang ketiga itu lebih cantik dari kamu? Atau lebih pintar?”

“Jangan tanya! Dia hanya lebih…lebih freshly cut?” Jawabanku mengundang tawa keras bagi Rifat. Cukup keras untuk membuat orang-orang yang sedang menikmati santap malam di kios kaki lima ini menoleh ke arah kami berdua.

Aku menepuk pelan lengannya, menyuruhnya berhenti tertawa karena kata ‘freshly cut’ yang tercelos dari mulutku. Rifat menahan tawanya dan menatapku, membuatku ikut-ikut menahan tawa melihat ekspresinya.

“Jangan khawatir. Kamu pasti bisa menemukan seseorang yang lebih baik daripada mantanmu itu.” Senyuman Rifat yang menyertai kalimatnya kali ini terlihat lebih manis, membuat pikiranku mengawang kemana-mana. Berjalan ke tingkat imajinasiku yang tertinggi, membayangkan bagaimana dirinya—dan aku tentunya—mungkin dapat berjalan bersama sambil menatap matahari terbenam di Pantai Senggigi. Untuk ke sekian kalinya dan dengan status sebagai kekasih.

Bukan mantan kekasih.

**

Semilir angin di Pantai Senggigi pagi ini memanjakan indera perabaku. Aku duduk di tepi pantai, agak jauh dari jalur ombak agar pakaianku tidak basah. Alas kakiku sengaja kududuki, menjadi alas agar celana pendek hitam yang kukenakan tidak terkotori oleh pasir. Tangan kananku menggenggam sebatang ranting pohon yang kutemukan sebelum sampai di pantai tadi. Dengan sadar aku menari-narikan ranting tersebut di atas pasir, membiarkannya mengukir huruf demi huruf yang ada di pikiranku. R-I-F-A-T. Aku berhenti, memandang tulisanku di atas pasti tersebut kemudian cepat-cepat menghapusnya kembali dengan ranting yang kugenggam.

Aku mengulang lagi tulisanku. D-E-W-A. Sial! Mengapa kali ini nama itu yang muncul dalam benakku? Aku mendesah. Kemarin aku sudah berhasil mengenyahkan laki-laki bernama Dewa itu dalam benakku tapi sekarang mengapa ia muncul kembali?

Aku teringat Dewa. Perlu kuakui, wajah Dewa sedikit mirip dengan Rifat. Perawakannya yang tinggi dan kurus juga delapan puluh lima persen mirip dengan cinta pertamaku itu. Dan kuakui, salah satu alasan aku bersama Dewa adalah karena ia mirip Rifat. Aku mendesah untuk kedua kalinya pagi ini. Satu karena aku menulis nama Dewa tadi dan kedua adalah karena aku menyadari bahwa aku sudah berbuat kesalahan besar pada Dewa, membandingkannya dengan Rifat.

Tapi Rifat cinta pertamaku! Aku yakin sebagian besar wanita membandingkan seseorang yang akan mendampinginya dengan cinta pertamanya itu, meskipun hanya dalam hati saja. Maafkan aku, Dewa.

“Melamun?” Suara bass yang khas terdengar dari belakangku dan ketika aku berbalik, aku mendapati Rifat sudah berjalan untuk duduk di samping kiriku.

“Aku kira kamu pergi,” sahutku.

“Tadi aku ketuk pintu kamarmu tapi kamu nggak ada,” sergah Rifat.

“Tadi aku ketuk pintu kamarmu tapi kamu nggak buka pintunya.” Kali ini ganti aku yang menyanggahnya.

“Mungkin aku sedang mandi,” serunya.

Aku membalasnya dengan senyuman tipis. Kemudian mataku memandangnya lekat-lekat. Ia lebih rapi hari ini. celana panjang dan kemeja bergaris yang dikenakannya berbeda daripada hari-hari biasanya.

“Kamu mau pergi kemana, Rif?”

“Kamu kok tahu aku mau pergi?” tanya Rifat seraya tersenyum ke arahku.

“Kamu nggak seperti kemarin-kemarin. Hari ini lebih rapi.”

Dan sekejap saja perasaanku berubah. Mungkin ini pertanda yang tidak begitu baik bagiku tapi kulihat mungkin tidak untuk Rifat.

“Aku mau ajak kamu ke bandara. Aku harus jemput seseorang di sana,” jelas Rifat.

Dan kata ‘seseorang’ kini membuat hatiku resah. Seseorang yang dijemput di bandara sepagi ini tentunya bukanlah seseorang biasa. Seseorang yang membuat Rifat mengganti penampilannya menjadi sangat rapi. Aku yakin.

“Sekarang?” tanyaku. Aku berharap ia berkata tidak tapi sayang, kepalanya malah mengangguk pelan.

Aku menghela napasku pelan, tidak ingin Rifat sampai melihatnya. Kemudian beranjak bangkit dari tempat dudukku dan memakai sandal yang menjadi alas dudukku barusan. Aku merapikan rambutku sebelum akhirnya menoleh ke arah Rifat dan mengajaknya untuk segera meninggalkan pantai.

Aku tahu hatiku meragu. Antara takut kecewa tapi rasa penasaran masih meliputiku. Maka aku memutuskan mengikuti tawaran Rifat ke bandara.

Menjemput ‘seseorang’.

**

Bandar Udara Internasional Lombok kali ini tidak terlalu ramai. Wajar. Jam di tanganku saja masih menunjukkan pukul sembilan pagi. Harusnya aku masih berdiam di pantai, menikmati semilir angin yang masih memanjakan kulitku dan juga melodi-melodi ombak yang menyegarkan telingaku. Tapi sekarang yang aku nikmati adalah tangan Rifat yang menarik lenganku agar berjalan lebih cepat menuju tempat ‘seseorang’ itu menunggu.

“Mana dia?” Aku memulai percakapan di antara kami.

“Harusnya sudah tiba lima menit yang lalu,” jawab Rifat pelan. Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri berulang kali, berusaha mencari ‘seseorang’ yang sengaja dijemputnya itu.

“El!” Seseorang meneriakkan nama El dari belakang kami berdua dan itu membuat Rifat sontak menoleh. Tapi suaranya adalah suara wanita. Apakah dia ‘seseorang’ yang dimaksud Rifat?

“Elsa!” Ketika aku tengah memerhatikan wanita di belakang kami yang baru saja meneriakkan ‘El’, Rifat yang berdiri di sebelahku memekikkan sebuah nama kemudian menyeruak ke arah wanita di depanku itu. Mungkin benar, dialah ‘seseorang’ yang dimaksud Rifat.

Mereka memeluk satu sama lain, bahkan keduanya saling menempelkan pipinya. Skinship yang sempurna di depan mataku. Tak lama kemudian kulihat Rifat berbalik, akhirnya ia menyadari ada aku di sini. Wanita bernama Elsa yang membuntutinya dari belakang kini ikut menghampiriku bersama dengan Rifat.

“Sa, kenalkan ini Rosely. Temanku.” Rifat mengenalkanku ke hadapan wanita yang kini tersenyum begitu lebar di depanku itu.

“Rosely,” ujarku.

“Rose, ini Elsa. Tunanganku.”

“Elsa.”

Senyuman Elsa kali ini sungguh membiusku. Tunangan katanya? Bukankah tiga hari ini Rifat memberikan pertanda ingin dekat denganku lagi? Jadi…

Ini ‘life has changed’ yang dimaksud Rifat.

“Rose, jangan melamun! Ayo kita makan siang sama-sama,” ajak Rifat.

Sorry, Rif. Lain waktu ya. Aku masih ada urusan. Aku duluan, Rif.”

Kakiku berjalan entah kemana tujuannya—tentu saja meninggalkan Rifat dan tunangannya itu. Aku tersenyum getir. Kupikir aku akan menjadi mawar yang baru saja dipetik bagi Rifat kali ini tapi nyatanya aku tetaplah hanya kelopak yang mulai tua dan layu, bagi Dewa…maupun Rifat.

– THE END –

23 Juli 2013 | 10.43 P.M

Advertisements

14 thoughts on “[Cerita Pendek] Path of Love Series – Rose Petal

  1. Jadi ini seri Lombok ya? Eung… Tp latar Lomboknya kurang berasa jagi.. Masa di Lombok ada pantai doang? *duagh*

    Ada satu typo. Sepanang harusnya Sepanjang. Selebihnya oke kok-seperti biasa-! ^^

    Di tunggu seri selanjutnya yaaa

    1. Wkwkwk.. kan uda aku bilang. Latar belakang pengen bikin di kota2 yang aku sukanya gagal. Jadi anggap aja ini cerita biasa #plak xD
      aku emang lg males eksplor Lombok.. lagi mau nulis ceritanya aja . hehe
      makasih yaa jagi :*

      1. *pelukbalik*
        Btw bener kata QQ-ssaem, jadi inget Rifat AYCE wkwkw itu yg pertama kali terlintas di otakku pas baca orific ini *salah fokus*

  2. oke… aq udah ol di pc. #ga ada yang nanya.

    typonya udah rapi selain yg disebutin naya diatas. hahahaha

    Settingna di lombok tapi ga kerasa lombok.
    Lombok tidak hanya pantai Senggigi. #riight?

    Nah saeng… 4 W + 1 H kamu juga masih lemat ternyata.
    kadang di bagian ini udah jelas apa, siapa, kapan, dimana dan bagaimananya. cuma kurang detail aja. soalna cerpen emang tantangannya disana. kudu jelas dengan kata2 yang singkat. hahaaha

    Rifat… jadi inget sama novel All You Can Eat. hahahaa
    Tapi suka…. hidup sudah pasti bakalan berubah. hihihh

  3. galau nih.. wew..
    kurang panjaaangg.. :D
    aku berharap ada yang lain tentang lombok..
    gunung rinjani mungkin?? haha
    tapi tetep.. aku suka gaya nulis kamuu.. :))

  4. Life has changed… Ya, seharusnya memang begitu ya…
    Jujur aja ya mala, aku kurang berasa galaunya meskipun baca cerita ini cukup bikin aku teringat sama cinta pertamaku. Trus setuju juga sama komen Nay and Gigi, setting lomboknya kurang berasa.
    Satu hal yang pasti, aku iri sama Rose. Dia lebih beruntung, memiliki lebih banyak kenangan bersama cinta pertamanya dibandingkan aku. Aku bahkan merasa bahwa aku tidak cukup mengenal dia. Ya, pokoknya begitulah…
    Anyway, kutunggu seri berikutnya. Semangat! ^^

    1. Mungkin karena pas bikin kurang dibumbuin emosi yaa eonni.. hehehe . Tapi makasih banyak loh eonni.. Aku ga pernah ke Lombok dan kurang mengeksplorasi lombok. Jadi yaa gitu deh, latar gagal. Wkwkwk :D
      Life has changed eonni.. :’)

      sekali lagi makasih eonni.. hehehe

Your feedback is a gift

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s