[Cerita Pendek] Ketidaksempurnaan

Pernahkah kedua bola mata di kepalamu menangkap basah seseorang yang kau cintai bermesraan dengan orang lain? Saling menggamit, menyandarkan kepala ke bahu satu sama lain atau sekadar tertawa bersama-sama. Mesra. Kalau kau tanyakan padaku mengenai hal itu sekarang, jawabannya adalah ya. Lalu apa yang akan kau lakukan setelah itu? Jawabannya adalah aku akan mengunci rapat mulutku, tak akan membiarkan satu kata pun lolos dari sana. Bodoh! Aku tahu orang akan berpikir demikian tapi apa lagi yang dapat kulakukan selain itu? Menyambanginya dan melontarkan caci maki? Menamparnya keras tepat di pipinya? Aku tidak bisa melakukannya. Jelas, karena aku mencintainya.

***

Batang pohon yang tidak kuketahui jenisnya itu menjulang, membatasi punggungku dengan punggungnya—laki-laki bermata bulat cokelat itu. Aku menundukkan kepalaku, menimbang. Waktu berdetak terus menerus tanpa peduli urusan kami yang belum terselesaikan. Sementara laki-laki di belakangku—Doni—berkali-kali mendengus. Kesal karena aku tak kunjung bicara. Raut matanya berubah dingin, tatapan tidak suka seperti yang biasanya ia tunjukkan jika sedang marah padaku.

“Apa yang mau kamu bilang sama aku?” Suaranya terdengar tegas, membuat hatiku tiba-tiba mencelos, tidak berani menuangkan apapun ke dalam kata.

“Aku…” Kugantungkan ucapanku, lidahku mendadak terkunci.

“Kalau nggak ada yang mau dibicarakan, kamu nggak usah panggil aku ke sini! Kamu kira urusanku cuma datang lihat kamu diam seperti ini?” Lagi-lagi cacinya keluar. Bukan hanya kali ini ia menyerapahkan bentakan kepadaku.

Kata orang, saat kita melewati bulan keempat hubungan kita berarti perasaan kita itu cinta. Awalnya aku percaya itu. Bulan pertama memang manis, begitu juga bulan kedua. Bulan ketiga aku mulai tahu seluk-beluk dirinya tapi aku tidak bosan berada di sisinya, berusaha mengertinya dengan segala kemampuanku. Bulan keempat sudah kami lewati bersama. Tak peduli meski kadang cibir terlontar ke arah kami kala perang mulut pecah. Tetap saja aku bisa melewatinya, kembali memperbaiki hubungan itu.

Sekarang aku meragu. Empat bulan untukku memang memupuk benih cinta, seakan dewa cinta memang berpihak padaku tapi tidak padanya. Cintanya memudar untukku, seperti tinta di atas kertas yang terkikis waktu. Tidak ada lagi dia yang dulu.

“Kalau kamu masih nggak mau bicara, aku pergi!” bentaknya sekali lagi. Keras.

Aku menengadahkan kepalaku ke atas, menatap dirinya yang kini berdiri di depanku namun pandangannya terlempar ke arah lain, bukan ke arahku. Aku mengusap air mata di sudut mataku.

“Aku lihat kamu kemarin, di bioskop. Bukan  sama Ibu atau sama adikmu tapi sama perempuan lain. Aku mengerti.” Aku tersenyum. Tulus. Jangan tanya aku mengapa, karena jawabannya sudah pasti sama. Karena aku mencintainya.

Aku menengadah lagi, kali ini matanya membesar. Terkejut.

“Aku mau tahu apa kekuranganku sampai kamu bisa selingkuh. Aku, aku nggak keberatan kamu selingkuh. Asal kamu kasih tahu aku hal apa yang kamu nggak suka dariku yang sampai membuat kamu berpaling ke perempuan lain, Don.” Aku berusaha menetralkan nada suara dan ekspresi wajahku, membuatnya semakin membelalakkan matanya. Kali ini tatapannya melemah, seperti merasa bersalah dan membuatku bernapas sedikit lega.

Aku merogoh sesuatu di dalam tasku, mencari secarik kertas dan pena kemudian menyodorkannya ke arah Doni. “Tulis semuanya di situ. Aku juga akan menuliskannya untukmu. Kekurangan-kekurangan yang bisa aku temukan dalam diri kamu. Supaya kita berdua bisa introspeksi diri.”

Doni mengambilnya—kertas dan pena yang aku sodorkan ke arahnya—kemudian kembali duduk di tempatnya sebelum ia bangkit tadi. Sama dengannya, aku menyiapkan penaku untuk menulis di atas secarik kertas putih yang kusiapkan di pangkuan. Aku tersenyum dengan sendirinya, kemudian menulis sejenak dan mencari ponselku. Aku ingin memotret tulisanku sebelum kuserahkan pada Doni. Setidaknya ini akan menjadi kenangan untukku, untuk yang terakhir kalinya.

“Aku sudah selesai,” ujar Doni seraya menyerahkan kertas miliknya ke arahku.

“Laura. Kamu itu nggak peka, membosankan, selalu nurut apa kata aku, kamu terlalu mandiri untuk ukuran seorang perempuan dan kamu sibuk.” Aku membacanya kuat-kuat kemudian tersenyum. Senyum yang sengaja kupalsukan di hadapannya.

Aku berdiri, menjulurkan tangan ke arahnya. Ia menyambutnya ragu tapi tetap melakukannya.

“Terima kasih, Don. Aku rasa aku sudah cukup tahu semuanya. Aku mungkin memang belum bisa menjadi sosok pendamping terbaik untukmu. Ini catatan dariku, semoga kamu bisa berubah untuk pendampingmu yang selanjutnya. Aku sayang kamu.” Kutarik pelan tanganku seraya menyerahkan kertas yang kutulis. Kubalikkan tubuhku dan sengaja berjalan pelan, menghilangkannya dari pandangan Doni. Pertahananku jebol. Aku tahu ini yang terbaik dan bagiku, apa yang kutulis sudah cukup. Aku mencintainya. Laki-laki itu, laki-laki yang bilang bahwa aku membosankan, tidak peka, terlalu mandiri. Laki-laki yang sudah mengkhianatiku. Aku mencintainya.

Aku menulis ini di kertasku. Tadinya aku berharap ia akan tergugah setelah membacanya tapi aku urungkan niatku. Aku bukan tercipta untuk kembali mendapatkan sakit darinya dan jika ia berubah, biarlah orang lain yang merasakannya. Karena untukku, semuanya sudah terlambat.

941275_251576688314408_1859248411_n

– THE END –

Author’s Note :

Tidak ada manusia yang sempurna. Sekeras apapun kamu mencari seseorang yang kamu inginkan dalam hidupmu, kamu tidak akan mendapatkan orang yang 100% sama dengan ‘dia’ yang kamu impikan. Bukan karena kamu tidak menemukannya, tapi mungkin karena kamu tidak pernah merasa puas dengan apa yang kamu dapatkan atau yang kamu punya. Saat kamu mencintai seseorang, kekurangan + kelebihannya menjadi satu paket lengkap yang tak bisa kamu tolak. Daripada mencari-cari sesuatu yang tidak akan mungkin kau temukan, lebih baik mencintai apa yang kamu miliki, bukan?

Ketika kamu mulai mencari seseorang yang lebih dari ‘dia’ yang kamu miliki sekarang, maka satu hari mungkin kamu akan menyesalinya karena ‘dia’ yang kamu cari tidak sesuai dengan ekspektasimu. Saat kau ingin kembali ke tempat awalmu, telambat. Seseorang yang dulu kau miliki mungkin sudah tidak menunggumu di sana. :)

[21 Mei 2013]

Advertisements

Your feedback is a gift

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s