Aku. Kamu. Rindu.

 

Rindu ini membuatku membeku, persis seperti pertama kali aku mendengar kata-kata yang kau luncurkan dari mulutmu, membuatku terpaku dalam keheningan.

Rindu ini telah mendarah dalam tubuhku, membuatku bergeming, memutar sejenak otakku dan memikirkan kelogisannya sendiri.

Rindu ini membuatku berpikir tentang rasa hati yang mungkin tidak bisa kupungkiri lagi adanya.

Tidak akan ada rindu jika tidak ada cinta yang mulai tumbuh dan mendarah daging.

Tidak akan ada rindu jika tidak ada pertalian rasa antara dua hati.

Tidak akan ada rindu jika kau dan aku hanya saling membeku sedari dulu dan tidak akan ada rindu jika hatiku tidak menemukanmu.

Merindukan seseorang yang bukan milik kita lebih menyakitkan dari merindukan seseorang yang sudah menjadi milik kita.

Dan aku merasakannya saat ini—dan mungkin di saat-saat kemarin.

Tepat.

Rindu telah menjeratku dan cinta adalah asal muasal segalanya.

Tapi berusaha menikmati semua sakit yang ada adalah bagian yang menjadi titik terindah dalam perjalanan cintaku kali ini.

Setidaknya ini cukup menyenangkan dibandingkan tidak pernah merasakan rindu kepadamu sama sekali.

Terima kasih cinta atas rasa sakitnya merindu yang kau bagi padaku.

Cinta…

Kata orang tidak ada yang salah dalam cinta sekalipun kerikilnya kadang membuatmu jatuh dan menangis kesakitan.

Tapi mengapa rasa-rasanya semua cinta yang aku tujukan padamu adalah salah di matamu meskipun aku belum merasakan sakitnya barang satu kali pun.

Apakah ada hati yang salah di matamu?

Apakah ada cela yang kutimbulkan di depan matamu sehingga kau alihkan pandanganmu dariku?

Namun jika mencintaimu adalah kesalahan maka biarkanlah itu menjadi dosa terindah untukku.

Mencintaimu adalah merasakan sakit dan bahagia dalam waktu bersamaan.

Kau berikan madu yang mungkin telah sengaja kau isikan dengan racun.

Mencintaimu membuatku tidak bisa membedakan mana pahit dan manus yang sesungguhnya kau bawa ke hadapanku.

Mencintaimu membuatku jatuh ke dalam lubang, lubang yang membuatku tak bisa keluar lagi dari dalamnya—tidak bisa jauh darimu.

Mencintaimu…mungkin itu belum cukup bagiku.

Advertisements

Your feedback is a gift

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s