Bisakah Kalian Abaikan Benteng Itu?

Jika aku ingin bertanya sekarang, pada siapa harusnya aku bertanya?

Semua-semua yang kurasa menjadi janggal belakangan

Jika saja riak air dan hembusan angin dapat bicara, bisakah aku tanya perihal hal yang membuatku seperti ini?

Mengapa harus ada yang masuk sementara belum bisa menata hati yang ada?

Mengapa yang masuk harus berada di balik benteng besar yang takkan bisa saling dipecahkan?

Bukan!

Ini bukan perihal cinta..

Tapi apakah persahabatan pun sama halnya?

Tidak bisakah kita mengabaikan benteng itu? Atau bahkan menghapusnya saja

Dan ketika aku berdiri di balik benteng itu, menujukan mataku pada sosok orang yang berbeda,

aku menengok ke belakangku jauh..

Banyak mata memandangku iba atau bahkan mencibir

Salahkah aku jika berjalan dmendekati benteng itu?

Benteng itu transparan, kawan..

Bisakah aku tetap berjalan bersama kalian sementara aku tetap bisa datang ke benteng itu?

Bisakah kalian mengerti sedikit saja, ini bukan suatu hal yang tabu bukan?

Ini hanya masalah kenyamanan..

Aku hendak pergi tapi aku urungkan

Aku hendak berputar tapi ‘ku tak bisa

Jangan tinggalkan aku di benteng itu sendirian

Temani aku di belakangku

Aku membutuhkannya…

Bandung, 24 April 2012

Advertisements

Your feedback is a gift

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s