[GagasMedia Holiday Writing Challenge] After Waiting

“Harusnya kalau memang lo suka sama dia, lo bilang ke dia, Tan! Dia juga sebenarnya udah tahu semuanya kan? Dia udah tahu perasaan lo yang sebenarnya. Lo cuma tinggal menegaskan semuanya supaya dia yakin, supaya dia tahu kalau lo serius. Jujur, Tan. Kejujuran itu memang pahit tapi gue yakin itu bisa bikin lo sedikit lega.”

Titan diam dalam renungannya sendiri. Ia menatap kakinya dalam nampak sangat bimbang.

Come on, Tan! Gue enggak mau lo terlihat menderita dan menyedihkan terus kayak gini! Gue maunya lo bangkit! Gue maunya lo dapat kejelasan dari Nada!! Kalau iya ya iya, enggak ya enggak! Gue gak suka teman gue nunggu harapan abu-abu kayak sekarang!”cecar Verren.

Titan diam, menatap Verren sebentar kemudian menundukkan kembali kepalanya.

“Sekarang atau enggak sama sekali ya, Ver.”gumamnya pelan.

Verren menepuk bahunya, menguatkannya agar ia mampu membulatkan tekad.

“Gue pergi, Ver.”

Titan berlari meninggalkan Verren. Ia menyusuri jalan-jalan yang cukup besar di kampusnya. Ia mencari sosok laki-laki yang sangat ingin ditemuinya saat ini, Nada. Tiba sampai ia melihat seseorang dengan kemeja merah dan celana panjang berwarna hitam, lengkap dengan tas selempangnya yang berwarna abu-abu. Ia berdiri di ambang kantin seraya meneguk air mineral dari genggaman tangannya. Perlahan Titan memerlambat langkahnya dan berjalan menghampiri Nada.

“Kakak, bisa bicara sebentar?”tanyanya.

Nada terheran mendengarnya. Bukankah selama ini kisah mereka sudah selesai? Bukankah sudah tidak ada lagi yang harus dibicarakan? Tapi Nada mengangguk pelan dan berjalan menjajari Titan menuju sebuah taman yang lebih hening dari kantin tersebut.

“Apa lagi yang mau dibicarakan, Tan?”kali ini Nada lebih dulu angkat bicara.

Titan terdiam sejenak.”Aku bingung harus mulai darimana.”

“Memang masih ada yang harus kita bicarakan?”

“Mungkin bagi kakak udah gak ada tapi bagiku banyak, Kak. Aku mau kejelasan! Harusnya kakak tahu apa yang aku rasain selama ini! Harusnya kakak tahu gimana perasaan aku dalam kisah ini.”

“Gimana kakak bisa tahu kalau kamu sendiri gak pernah jelasin semua itu?”

Nada menoleh ke arah Titan yang perlahan mengusap butiran kristal yang meleleh di sudut matanya.

“Kamu gak perlu nangis.”ujar Nada, kali ini memandang lurus ke depan.

“Kakak tuh gak pernah bener-bener tahu! Kakak gak pernah tahu gimana aku suka sama Kakak. Kakak gak pernah bisa mengerti perasaan aku, sedikit aja. Aku cuma minta sedikit kak.”

“Bukannya lebih baik kalau kakak gak tahu? Kakak juga gak bisa apa-apa kan kalau kakak tahu?”

“Kak!!”

“Titan…”ujar Nada tertahan,”kita…”

“Terus untuk apa semua sikap baik kakak? Untuk apa kakak simpan semua yang aku berikan? Sampai hal terkecil pun kakak simpan, kan?! Jangan kira aku gak tahu, kak! Jadi maksud kakak semua itu gak ada artinya?!”Titan berkata dalam deru air matanya.

Nada terdiam, merasa bersalah. Ia menundukkan kepalanya, berusaha tidak terlihat oleh Titan. Ia tidak ingin Titan melihat kebohongan dalam matanya.

“Kakak itu kasih aku harapan! Kakak itu udah buat aku berharap sampai sekarang. Apa gak ada sedikitpun perasaan kakak untuk aku?”ucapan Titan terdengar semakin lirih.

“Ada, Tan. Kakak sayang kamu tapi kita gak bisa.”

“Tan, kamu harus mengerti. Kamu udah salah menilai semuanya! Kakak tulus sama kamu, kakak baik sama kamu itu bukan karena cinta. Kakak gak pernah sengaja kasih kamu harapan.”

Mulut Nada tidak bisa sama sekali mengeluarkan kata-kata seperti apa yang hatinya katakan. Nada tahu mereka tidak bisa bersama, setidaknya untuk saat ini mereka tidak bisa.

“Kak, aku…”

“Tan, cukup. Kakak gak bisa nerima kamu. Kakak tahu kamu sayang sama kakak tapi gak semua yang kita harapkan akan menjadi apa yang kita punya. Kakak gak punya waktu untuk hal-hal bullshit kayak gini.”akhir Nada seraya berjalan pergi meninggalkan Titan.

Titan terdiam. Wajahnya semakin basah karena air mata. Ia memandangi kepergian Nada yang didramatisir oleh hembusan angin kencang. Mungkin memang cinta tidak harus memiliki. Mungkin memang kejujuran itu menyakitkan. Mungkin mencintai memang merasakan luka dan Nada adalah luka sekaligus obat terindah yang Titan punya.

“Maaf, Tan. Jika nanti waktunya akan menjadi tepat, aku pasti jujur. Jujur kalau sebenarnya kamu adalah perempuan pertama yang membuat aku merasa begitu istimewa, perempuan pertama yang bisa aku cintai sepenuh hati.”

Advertisements

Your feedback is a gift

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s