Eksak, Let’s Be Friend.. :)

Kalau mendengar kata EKSAK pertama kali apa sih yang ada di benak kalian?? Matematika? Fisika? Kimia? Astronomi? Geologi? Geografi? Stoooop!!! *tutup telinga cepat-cepat* >.<

Entah kenapa pikiran gue rasanya mumet semumet-mumetnya kalau udah menyinggung soal eksak. Gue sekarang udah jadi mahasiswi semester 2 di jurusan Teknik Pulp dan Kertas. Sebenarnya ada beban berat saat gue menyebut nama jurusan itu. Rasanya jurusan itu terlalu berat untuk dipikul. Sama beratnya dengan kalau gue nyebut jurusan Teknik Kimia, Teknik Industri, Teknik Nuklir, atau teknik-teknik yang lainnya. Atau sama beratnya dengan menyebut jurusan Kedokteran, Akademi Keperawatan, Farmasi, Pendidikan Matematika, dan lain sebagainya.

Ya, sederetan nama jurusan di atas sebenarnya adalah prodi-prodi yang dulu mungkin hampir menjadi pertimbangan gue saat akan masuk kuliah. Dari Akademi Keperawatan, Farmasi (dulu gue terobsesi jadi seorang Farmakolog), Gizi Kesehatan, sampai Teknik Kimia. Malah waktu menimbang ikut SNMPTN gue hampir mencoba masuk Teknik yang aneh-aneh semacam Teknik Elektro-atau-teknik-apalah-itu-yang-benar-benar-aneh-namanya. Untungnya gue gak jadi ikut SNMPTN. Kalau jadi, mungkin gue udah nyasar (ke jurusan yang salah atau malah gak kuliah sama sekali jadinya).

Setelah setengah tahun lebih belajar dan menimba ilmu di ATPK (Akademi Teknologi Pulp dan Kertas), Bandung, gue sadar kalau gue dan yang ada dalam diri gue tidak terlalu dapat menerima semua pelajaran eksak dengan mudah. Ternyata mungkin kecerdasan matematis-logis gue memang tidak begitu bagus (FYI, waktu pelajaran Character Building di SMA, kecerdasan gue yg terakhir dari 9 jenis kecerdasan adalah kecerdasan matematis-logis)

Kalau gue ngebayangin gue sekarang sama gue yang dulu, gue selalu mikir, “Kenapa gue bisa masuk ke sini? Kenapa gue harus kuliah di teknik kalau gue gak bisa eksak? Kenapa gue gak sadar dari dulu?”

Sekarang bayangin, gue udah terlanjur di sini, di tengah-tengah 68 mahasiswa lain yang otaknya tentu saja tidak bisa dianggap standar karena mereka juga udah diseleksi untuk masuk sini dan gue berada di tengah-tengah mereka dengan segenap kebimbangan apakah gue bisa melalui semua masa kuliah 3 tahun gue dengan IP mencapai yang sudah ditargetkan perusahaan.

Waktu semester satu gue masih bersyukur karena masih ada mata kuliah Bahasa Inggris atau Agama yang gak eksak tapi begitu masuk semester 2?? Blam! Senin, Matematika. Selasa, Kimia Analitik dan Fisik. Rabu, Instrumentasi dan Termodinamika. Kamis, Mekanika Fluida dan Kimia Organik. Jumat, Penyediaan dan Penggunaan Tenaga Listrik. Rasanya mau teriak,”Woi! Pecahin aja kepala gue!!”

Tapi yah beginilah hidup. Seperti yang pernah gue posting di sini juga, hidup itu pilihan. Kita hanya perlu memilih hitam atau putih. Dulu mungkin aja gue bisa milih untuk gak masuk ATPK dan mungkin sekarang jadi pengangguran di rumah yang cuma bisa merepotkan orang tua. Atau gue bener-bener memilih pilihan hidup gue sekarang, belajar dan ikhlas ngejalanin tanpa membebani orang tua gue. Semua pilihan kan?

Saat nulis-atau-ngetik- postingan ini, gue menoleh ke arah kiri dan melihat keempat roommates gue sedang sibuk belajar termodinamika untuk kuis besok atau sekedar menyalin catatan. Sedangkan gue asyik bertekur dengan netbook dan malah blogging. Betapa hebatnya gue!

Jangan tanya berapa kali gue pernah merasa minder berada di sini..

Jangan tanya berapa kali gue sedih karena gue ngerasa orang tua gue udah salah ngebanggain gue..

Jangan tanya berapa kali gue nangis gara-gara gue ngerasa sangat payah di sini..

Tapi gue berpikir lagi ke belakang. Kalau gue bener-bener gak mampu, kenapa dulu gue bisa ikut lomba-lomba eksak?? Kenapa gue bisa masuk IPA dan berprestasi?? Kenapa gue bisa lolos tes beasiswa di ATPK ini?? Kenapa?? Kenapa??

Ini dia! Di antara kita gak ada yang pintar atau yang bodoh. Yang ada hanya yang kurang pintar atau yang lebih pintar. Gak ada yang rajin atau malas. Hanya ada yang kurang rajin atau ada yang kurang rajin. Sesungguhnya kan semua orang memiliki bakat dan kemampuan masing-masing. Kita gak perlu tuh yang namanya minder dan membandingkan apa yang kita punya dengan apa yang orang lain punya. Setidaknya apa yang kita punya, belum tentu orang lain punya dan apa yang orang lain punya, belum tentu kita punya. Semua punya kelebihan masing-masing begitu pula semua punya kelemahan masing-masing.

Pernah satu kali saat gue lagi down masalah kuliah, nyokap tiba-tiba SMS gue bilang supaya gue jangan kecewain dia. Ya, nyokap memang seumur-umur belum pernah dikecewakan karena gue ga naik kelas atau apa. Tapi gue merasa sangat down saat nyokap bilang begini. Sedetik kemudiam gue berpikir, setidak-sukanya gue sama mata-mata kuliah eksak itu, gue akan terus berusaha. Mungkin gue memang gak bisa jadi yang terbaik di sini tapi setidaknya gue bisa mengusahakan yang terbaik yang gue bisa.

I’ll make you proud, mom.. At least, I will never disappointed you~~ :’)

Mungkin gue gak bisa ngikutin pelajaran dengan baik, mungkin gue sering malas, tapi gue harus buktiin ke nyokap-bokap, ke semua yang mungkin menganggap gue gak ada apa-apanya, ke mereka yang udah menyokong pendidikan gue, ke mereka yang udah percaya gue, ke mereka yang udah selalu nemenin gue dan support gue, dan terutama ke diri gue sendiri kalau gue itu salah satu orang yang memang qualified dan pantas belajar di sini.

Meskipun gue harus menepikan sedikit mimpi gue, gak masalah. Yang penting gue gak berhenti mengejarnya. Ya, hidup itu pilihan bung. Di masa-masa yang akan datang , akan lebih banyak pilihan-pilihan sulit yang akan kita hadapi. Sadar atau tidak sadar. Di kehidupan yang akan datang, pilihan-pilihan itu akan bisa membawa kita ke arah mimpi kita atau mungkin malah membuat kita terhenti.

NB :

Terima kasih buat semua yang bikin gue betah di sini. Mama-papa, yang percaya gue bisa di sini. Keluarga besar gue. Dewi, Mariana, Regina Nathania, Margareta Ayu Mentari–yang ga pernah capek dengerin gue ngebawel di kamar, yang meskipun sering suka cuek masing-masing tapi tetep sayang sama gue. Ko Delfan Herfandy Marli, Ko Edi Gunawan, Ko Alex Sander, Ko Jojo, Ko Michael Tanuwijaya, Martono, Fredyanto, Chandri Putra Pratama, Jonny, Edy Gunawan, Ci Vivi Maryati, Ci Natalia, Ci Widya Lestari, Ci Kristina Wijaya, Fernando Susilo, David Kangnata, Anthony Susanto, Yosua Novel Sinaga, David Lukito, Ardy Ramadhani, and the last but not least, Ko Anton Ciaputra. :)

Buat teman-teman yang sama-sama berjuang di sini. Buat temen-temen yang PSM bareng-bareng, yang suka ngerumpi di depan TV mess bareng-bareng, yang ngedance bareng. :DD

You’re the reason why I can hold on here~~

Here I am, ‘eksak’!! Let’s be friend!!

Advertisements

4 thoughts on “Eksak, Let’s Be Friend.. :)

Your feedback is a gift

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s