When My Heart Speaks…

Rainy November…

Berpuluh lagu sudah sejak tadi mengiringi satu per satu gerak-gerikku, rintikan hujan menciptakan suasana sendu di sekelilingku. Semuanya berhasil mengacaukan suasana hatiku yang sesungguhnya memang tidak tahu kemana rimbanya..

Sebenarnya aku tahu bukan salah irama ini, ini salah hatiku. Salahnya mengapa ia sampai masuk lagi ke dalam pesona seorang kaum Adam itu. Padahal sudah kubilang kalau kita itu makhluk yang selayaknya dicintai baru mencintai, kita tidak akan pernah bahagia jika kita mencintai dulu baru berharap akan dicintai. Aku menyesal, bukan menyesal karena aku telah jatuh cinta padanya tapi karena aku telah dengan bodohnya mencoba mencintai seseorang. Mengapa sekarang rasanya cinta itu seperti iblis yang kerjanya meracuni pikiranku saja? Aku mungkin berkata aku benci mencintai. Karena dengan mencintai aku bisa menjadi tersakiti. Karena dengan mencintai hatiku mungkin saja patah. Dengan mencintai aku bisa saja menangis.

Ibarat berjalan di suatu kota yang tidak kita kenal sebelumnya tapi kita tetap saja berani melangkah, mencari jalan mana yang bisa menuntun kita pulang atau menuntun kita menuju tempat yang lebih indah dari tempat kita saat ini. Begitulah aku.. Melangkah sendiri tanpa tahu apa yang ada di balik seribu langkahku nanti, tanpa tahu apa yang akan aku dapat nanti. Hanya dua.. Balasan atau penolakan yang sesungguhnya akan sangat menyakitkan.

Menaruh rasa padanya berarti aku memutuskan untuk berusaha menjadi diriku sendiri, diriku yang sama sekali jauh dari kata sempurna, diriku yang selalu bicara apa adanya, dan diriku yang penuh kekurangan. Karena itu juga aku ingin melihat semua yang ada pada dirinya, kelemahannya, kelebihannya dan segalanya tentang dia.

Aku ingin menjadi seseorang, seorang wanita pertama yang mampu membuatnya jatuh cinta. Aku ingin menjadi wanita yang ada di tempat kedua setelah ibunya dalam hatinya itu, menjadi wanita yang bisa mendampinginya sebagai pasangan, kakak, adik, ibu, teman dan sahabat. Meski tiap kali memikirkannya aku bisa saja merasakan sakit sesakit-sakitnya, aku mungkin sulit untuk mampu menghapus perasaan yang kupendam ini.

Tapi aku takut..

Ketakutanku terletak pada keberanianku. Apakah aku berani memperjuangkan semuanya? Itulah yang aku takutkan. Aku terlalu takut untuk menunjukkan semuanya tapi sesungguhnya aku sendirilah yang sudah mulai menunjukkan semuanya. Aku terlalu takut untuk dapat terbuka di depannya, memperlihatkan secara langsung seluruh perhatianku padanya tapi aku yang resah saat tidak bisa menunjukkan semua itu. Aku terlalu takut untuk menatap kedua matanya sehingga aku hanya bisa mencuri-curi pandangan dari arah yang jauh. Saat ia berdiri di satu sudut, jika dia benar-benar menaruh perhatian terhadap keadaan sekitarnya maka ia akan menemukan sepasang mata yang akan selalu memerhatikannya, menikmati tiap gerak-gerik dari dalam dirinya.

Kalau saja aku punya beribu keberanian untuk memperjuangkan sesuatu yang berharga ini..

Bukan hanya satu kerikil yang aku temui saat berjalan menuju ke arah yang hendak kucapai itu. Saat satu sudah bisa kulalui tanpa hambatan maka aku menemukan kerikil lainnya yang nampaknya lebih besar dari yang sebelumnya. Kerikil yang aku pun tidak tahu bagaimana untuk bisa memecahkannya. Kerikil yang kutakutkan dapat menghancurkan seluruh jiwa dan semangat perjalananku sampai saat ini.

Rinai hujan cukup mampu mewakili semua mendung dalam diriku. Ia menggantikan air mataku dengan baik. Tak cukup satu dua hari untuk bisa melupakan seluruh hal yang menyesakkan tubuhku itu. Ketakutanku sangat kuat sampai kadang mimpiku memvisualisasikannya dengan baik. Pernahkah ia bertanya-tanya bagaimana jika ia adalah aku? Bagaimana rasanya menjadi sosok orang yang berada di posisiku? Bagaimana bisa menjadi diriku yang bertahan dalam ketidakpastian?

Rasa itu takkan pernah salah..

Rasa itu tidak pernah mengatakan benar atau salah..

Tapi aku merasa aku salah!

Aku merasa semuanya tidak berguna.. Lalu untuk apa kulakukan semua untuknya?

Untuk apa semua kata yang selama ini aku tuliskan..

Untuk apa semua do’a yang selama ini kupanjatkan..

Untuk apa semua lagu yang selama ini kulantunkan..

Untuk apa semua ketulusan dan kepercayaan yang selama ini aku jaga..

Katakan kalau aku harus menyerah..

Katakan lebih dahulu jika kau tahu semuanya akan sia-sia..

Katakan sejujurnya jika tak kau simpan sesuatu untukku..

Mungkin aku bisa bersabar..

Mungkin aku bisa menunggu..

Mungkin aku bisa bertahan..

Mungkin..

Untukmu semuanya mungkin…

 

 

Bandung, 05-11-11 18.03

Advertisements

2 thoughts on “When My Heart Speaks…

Your feedback is a gift

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s