Short Story : Rasa yang Terakhiri

Jika hari sore datang, diriku seketika akan kembali teringat dengannya. Dengan dia yang dulu pernah mengisi hati dan hari-hariku. Sebuah kisah singkat dengan begitu banyak kenangan di dalamnya. Kalau ada yang bertanya padaku, mengapa semua bagitu singkat, aku akan menjawab, “Gak ada orang yang mau berakhir sesingkat ini.”. namun bagaimana dengannya? Ini yang terjadi padaku dan dia. Diakah yang menginginkan semua ini?

 

oOo

            Tahun ajaran baru akhirnya di mulai kembali. Tak terasa sekarang sudah memasuki tahun terakhirku di Sekolah Menengah Atas. Tahun depan aku akan menghadapi Ujian Nasional yang sering dianggap menyeramkan oleh orang-orang. Seperti tahun-tahun sebelumnya, aku menjadi panitia Masa Orientasi Siswa di sekolahku. Satu minggu bersama dengan siswa-siswa yang baru saja melepas seragam putih birunya itu terasa sangat melelahkan. Akhirnya aku sampai pada minggu pertama KBM. Pelajaran pertamaku adalah Bahasa Indonesia dan tugas pertamaku yaitu membuat cerpen. Entah mengapa saat itu aku teringat pada sosok yang baru saja ku ingat.

            “La, masa kemarin pas gue baru pulang dari warnet, gue ketemu cowok naik motor yang tiba-tiba ngeliatin gue dari motornya. Gue gak tahu siapa dia dan gue kenapa tiba-tiba kepikiran Rieyan yah?”tanyaku pada Cheila, teman semejaku.

            “Wah. Rieyan yang anak band di SMK?”

            “Iya. Hahaha. Masa dia sih. Gak mungkin deh ya kayaknya.”

            “Gak tahu dah.”

            Seketika aku menulis namanya sebagai tokoh cerpenku. “Sepenggal Jalan Rieyan”

 

            Beberapa bulan berlalu sejak minggu-minggu pertamaku sekolah. Tiba-tiba saja aku teringat pada Rieyan.

            “Gue kok gak pernah ngelihat Rieyan yah di sini? Kelas dia di mana ya?”tanyaku pada Cheila dan Citta.

            “Gak tahu gue. Gak gue pikirin lah. Hahaha.”seru Cheila.

Entah angin apa yang datang saat itu, siang harinya aku melihat Rieyan berdiri di kelasnya. Kelasnya ternyata berada di samping perpustakaan dan kantor guru yang sering menjadi tempat singgahku di sekolah.

            “Rieyan manis yah.”seruku

            “Iya dah. Haha. Emang manis sih dia dari dulu. Hehe.”sahut Citta.

 

            Aku ingat saat itu aku baru saja berpisah dengan seseorang yang dulu ku sayangi. Mungkin aku mengagumi Rieyan saat itu. Namun aku masih tak yakin dengan semua itu. Aku hanya kagum dengan senyumnya saat itu.

 

oOo

            Aku mengganti posisi tubuhku di tempat tidur. Memandangi gambar wajahnya yang masih ku simpan di handphoneku. Tak sampai hati untuk menghapusnya dari handphoneku, terlebih lagi dari hatiku. Aku tersenyum sendiri. Menahan tangis yang ku harap tak lagi jatuh malam itu. Aku pejamkan mataku dan berusaha tertidur dalam gelap.

 

oOo

            Sepertinya aku mulai menyadari bahwa aku suka padanya. Benarkah?? Sudah beberapa hari ini aku bertemu dengannya hampir setiap hari. Tebak apa yang kulakukan? Hanya tersenyum tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Hebat bukan?

Saat itu, aku masih ingat hari itu adalah hari Jum’at. Aku bertemu dengannya di depan kelas.

            “Kok lo di luar?”tanyaku

            “Gak ada pelajaran sih.”jawabnya dengan melemparkan senyuman yang paling manis.

Saat itu aku tahu ia sudah berdua. Jadi aku hanya bisa tersenyum dan melihatnya dari jauh. Seketika ada seorang teman memanggilku.

            “Ci, sini deh.”seru Natalia.

            “Kenapa?”

            “Gak apa-apa. Kok belum pulang, ci? Hehehe.”

            “Abis ekskul nih. Kamu gak ada pelajaran?”

            “Gak ada, ci.”

Terkejut aku tiba-tiba saat Rieyan berjalan menghampiriku. Dengan senyumannya yang paling manis ia menyapaku di depan kelasnya.

            “Mai, boleh minta nomor HP lo gak? Kalo gak boleh ya gak apa-apa.”

            “Boleh kok.”seruku sambil tersenyum. Aku gila kalau sampai aku gak kasih nomor HP aku sama kamu, Yan.

 

            Setelah insiden minta nomor handphone itu, aku menunggu smsnya siang malam. Berharap ia menghubungiku. Meski begitu, aku tak pernah ebrharap banyak padanya karena aku tahu ia sudah ada yang punya. Aku gak pernah berani untuk menghubunginya duluan. Entah mengapa aku tak pernah berani mencoba. Aku hanya bisa memandanginya dan tersenyum padanya.

            “Mai, mai. Itu ada Rieyan loh.”seru Citta.

            “Terus mau diapain? Biarin aja lah.”

            “Rieyan!”

            “Loh kok lo panggil sih?”

            “Gak apa-apa lah.”

Rieyan tersenyum ke arah Citta, Cheila dan aku. Aku sudah hendak naik ke lantai atas menuju ke kelasku sebelum Rieyan berlari dan menghampiri kami di tangga.

            “Eh, gue minta nomor HP Jaya sama Andre dong.”seru Rieyan.

            “Kasih tuh, Mai.”suruh Cheila padaku.

            “089…”

            “Lo kirim aja deh ke nomor gue.”

            “Gue aja gak tahu nomor lo.”

            “08380941***”

            “Oke tar gue kirim.”

            “Sip. Thanks yah.”serunya berlalu dari hadapan kami bertiga.

            “Seneng kan dapet nomor HPnya. Hehe.”ujar Citta.

Aku hanya tertawa kecil sambil terus berjalan menaiki tangga. Aku gak pernah menyangka dapat nomor HPnya dengan cara seeprti itu.

 

            Siang hari sepulang sekolah saat aku berada di warnet mengerjakan tugas bersama Citta, aku mendapati akhirnya dia menghubungiku untuk pertama kalinya.

 

From : Rieyan .

Hai, Maia..

Lagi apa tuh? J

 

Aku segera membalasnya saking senangnya.

 

To   : Rieyan .

Hai juga . Lagi ngerjain tugas agama di net nih.. Lo? J

 

Tak ada balasan lagi darinya. Aku menunggu dan hanya menunggu.

 

oOo

            Rasanya aku bisa tersenyum tanpanya. Tapi seketika kemudian aku kembali menangis. Bingung. Entah apa yang harusnya aku lakukan untuk menghapus bayangnya dari hatiku. Pagi ini aku bangun dari tidurku dan mengapa yang pertama kali muncul di benakku adalah dia. Mungkin jika tak ku tahan, aku sudah meneteskan air mataku lagi.

 

oOo

            Sejak saat aku menyadari kalau aku menyukainya, selalu ada alasan keluar dari mulutku untuk selalu bersamanya. Dia selalu terlihat keren saat main gitar. Aku tahu itu karena aku selalu memerhatikannya selama latihan. Latihan band tentunya. Dan dia selalu saja tersenyum ke arahku saat berlatih. Membuat jantungku berdegup kencang sampai kadang aku pun ikut tersenyum tapi tanpa berani melihat ke arahnya. Setiap hari rasanya aku ingin lebih lama berada di sekolah hanya untuk menunggumu.

 

To   : Rieyan .

Maaf ya kemarin gak bales.. Aku ketiduran. ^^

 

From : Rieyan .

Oh, gak apa2 kok.. Gimana cowok kamu?

 

To   : Rieyan .

Cowok? Aku mana punya cowok. Haha.

 

From : Rieyan .

Ah jangan bohong. Itu yg di FB apa? Ayo ngaku.. :D

 

To   : Rieyan .

Aku udah putus sebulanan yang lalu. Bener kok..

 

From : Rieyan .

Ohh.. Hehehe.

 

To   : Rieyan .

Kamu sendiri gimana sama cewek kamu?

 

From : Rieyan .

Udah berakhir..

 

To   : Rieyan .

Kok bisa gitu?

 

From : Rieyan .

Mau gimana lagi. Perasaan udah pudar.. Hehe.

 

Apa yang ku rasa? Senang. Sungguh aku senang mendengarnya. Tapi aku juga takut. Jangan-jangan karena aku mereka putus. Aku takut semuanya terjadi karena diriku.

 

oOo

            Kalau aku mengingat saat perkenalan kami, indah sekali bagiku. Sungguh, kejadian yang benar-benar tak ku duga. Untuk sementara aku terdiam di tempat tidurku sebelum bersiap berangkat ke sekolah. Rasanya enggan sekali aku ke sekolah. Terlalu berat untuk menghadapinya. Tapi mau tidak mau aku harus berangkat. Aku pun bangkit dan bersiap.

 

oOo

            “Kenapa sih dia harus datang bareng Reta sama Difa?!”seruku di toilet pada Citta saat aku melihat Rieyan datang bersama dua orang itu.

            “Sabar, Mai. Siapa tahu aja mereka cuma ketemu di luar. Udah jangan kesel lagi.”

            “Panas gue, Cit.”

            “Iya gue ngerti. Baru juga segini. Udah jangan sedih lagi. Yuk kita ke dalam. Udah mau mulai tuh mereka ngeband.”

 

            Aku gak lagi peduli apa yang aku rasakan tadi. Kecemburuanku tadi seolah tertutupi karena permainan gitar Rieyan. Aku selalu terpesona padanya. Tak henti-hentinya aku melihatnya, bertepuk tangan dan bersorak dari tempat aku menonton. Tak terasa performance mereka sudah selesai.

            “Nih tissue.”seruku menyodorkan tissue padanya.

            “Makasih ya”sahutnya sambil tersenyum padaku.

Aku hanya tersenyum dan berjalan keluar. Sementara aku melihat ia dan yang lainnya merapihkan alat-alat bandnya. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku akhirnya melakukan hal yang selama ini ada di pikiranku. Aku selalu berpikir untuk menyeka keringatnya setelah perform dan memberikannya minum.

Aku berjalan ke counter minuman dan membeli sebotol air mineral.

            “Nih.”seruku

            “Buat siapa?”tanyanya

            “Buat kamu.”sahutku sambil tersenyum.

            “Makasih yah.”

oOo

            Hari ini aku akhirnya sekolah seperti biasa. Aku melihat sosoknya di tangga. Tapi aku malah segera naik ke kelasku agar tak berpapasan dengannya. Aku terlalu rapuh untuk bertatap muka dengannya. Sampai pada akhirnya aku bertemu dengannya. Aku menangis karena melihat dia. Menangis karena menyadari dia bukanlah seseorang yang selalu ada untukku lagi dan menangis karena melihat dia yang terluka karena kecelakaan. Arghhh! Mengapa air mataku ini harus jatuh di depan matanya. Mengapa ia akhirnya harus melihat aku menangis! Aku merasa sangat hancur saat itu.

 

From : Rieyan .

Kamu kenapa?

 

To   : Rieyan .

Kenapa apanya?

 

From : Rieyan .

Ngapain sih kamu nangisin aku? Aku tuh gak pantes buat kamu tangisin, Mai.

 

To   : Rieyan .

Haha. Udah gak usah pikirin aku. Ngapain juga kamu peduli aku nangis atau gak.

 

From : Rieyan .

Ya karena kamu nangis gara-gara aku. Udahlah, aku bukan cowok yang pantes buat kamu tangisin.

 

To   : Rieyan .

Hmm..

 

From : Rieyan .

Kamu tau gak, aku tuh benci ada orang nangisin aku. Daripada aku benci sama kamu, mendingan kamu nurut sama aku, Mai.

 

To   : Rieyan .

Iya..

 

oOo

To   : Rieyan .

Udah makan malam belum?

 

From : Rieyan .

Belum nih.. Hehe . Kamu udah belum?

 

To   : Rieyan .

Udah kok tadi. Hehe.. :)

Kok kamu gak makan? Udah malam loh. Makan dulu sana..

 

From : Rieyan .

Gak ah. Aku mau makan kalau disuapin kamu..

 

To   : Rieyan .

Haha.. Emang kalau disuapin aku kamu beneran mau makan?

 

From : Rieyan .

Iya sayang.. J

 

To   : Rieyan .

Iya nanti aku suapin deh.. Kok ngomongnya pakai sayang2 sih? Emang kamu sayang sama aku apa?

 

From : Rieyan .

Iyaa..

 

To   : Rieyan .

Hehe.. Paling juga cuma becanda kayak dulu. :p

 

From : Rieyan .

Beneran kok..

 

To   : Rieyan .

Masa?? Serius??

 

From : Rieyan .

Iya.. Udah besok aku jelasinnya. Aku mau tidur dulu yah.. Nite..

 

Band Rieyan masuk final dalam kompetisi kemarin. Dengan tiket yang sudah dibelikan oleh Rieyan aku datang sejak pukul 10.00. Inginnya aku memberi support terus kepada Rieyan dan memang itu yang ku lakukan kepadanya. Apapun yang aku rasakan, aku berharap bisa selalu bersamanya dan membuatnya bahagia.

To   : Rieyan .

Katanya mau jelasin?

 

 

From : Rieyan .

Nanti.. Tunggu saat yang tepat..

 

To   : Rieyan .

Huh.. Ya udah. >.<

 

From : Rieyan .

Ya udah, kamu ikut aku ke depan yuk..

 

            “Kemarin aku bilang mau ngejelasin apa ya?”tanyanya

            “Dih. Pura-pura aja.”sahutku

            “Hehe. Mau jelasin yang masalah S.A.Y.A.N.G yah?”

            “Gak tahu deh.”

            “Hehe.. Iya. Iya.. Hmm, ini tanggal berapa? 16 yah? Hmm. Ya, Aku sayang sama kamu.”

            “Beneran?”

            “Iya. Kamu mau apa gak nerima aku? Kalau gak mau ya aku gak apa-apa kok.”

            “Kok kamu bisa sayang sama aku?”

            “Aku juga gak tahu kenapa bisa sayang sama kamu. Aku tahu kok apa yang kamu rasain.”

            “Ih. Sok tahu banget kamu. Hehe.”

            “Tahu dong. Hehe.”

            “Emang tahu darimana?”

            “Dari perhatian-perhatian kamu ke aku.”

            “Emang aku perhatian sama kamu?”

            “Iyaa.. Hehe.. Jadi kamu mau nerima aku ga?”

            “Hmm..”

            “Mikir nih ceritanya.”

            “Hehe.. Iya.”

            “Jadi gimana?”

            “Iya aku mau.”

            “Beneran??”
            “Iyaa..”

 

oOo

            Ya! Aku gak akan nangis karena dia lagi. Aku bisa tanpa dia dan dengan atau tanpanya aku pun akan dan harus melanjutkan hidup aku. The show must go on.

 

oOo

            “Sebenernya apa sih yang kamu rasain sekarang ke aku? Gak bisa kita ngejalanin semuanya dengan saling diam dan cuek-cuekan terus, Yan.”

            “Iya. Aku ngerti.”

            “Kamu ngerti apa? Aku tahu perasaan kamu udah pudar kan sama aku. Perasaan kamu udah rapuh. Atau udah ada cewek lain lagi? Bilang aja sama aku. Aku gak apa-apa kok.”

            “Aku juga gak tahu kenapa bisa begini. Tapi lama-lama yang aku rasain itu berkurang. Ini bukan karena cewek lain kok.”

            “Kita gak bisa ngejalanin semuanya kalau gak ada komunikasi kayak selama ini. Kalau kamu emang udah gak sayang sama aku, bilang aja. Aku gak mau maksa kamu. Aku gak mau maksain kamu jalanin semuanya kalau kamu gak sayang sama aku.”

            “Bukan aku gak sayang kamu lagi.”

            “Jadi sekarang kamu maunya gimana?”

            “Terserah kamu aja.”

            “Gak bisa terserah aku dong.”

            “Udahlah, nanti kita ngomongin lagi.”

            “Jawab aja sekarang, Yan. Apa yang kamu mau sekarang?”

            “…”

            “Rieyan.”

            “Ya udah, kita jadi temen aja ya.”

oOo

            Aku belum bisa melupakan dirinya. Itu kenyataan yang aku hadapi sampai sekarang. Beberapa hari ini mungkin aku masih mengingatnya. Berharap dapat kembali bersamanya dan dapat kembali memerhatikannya. Tapi rasanya beberapa hari ini aku juga tahu kalau dia sudah melupakan semuanya. Hari ini aku memilih untuk bangkit dan kembali menjalani hidupku tanpa dirinya. Tanpa berharap akan dirinya, tanpa mengingat rasa sayangku pada dirinya. Aku tahu itu sulit. Aku ingin dia merasakan apa yang aku rasakan ini. Bagaimana aku merasa kehilangan, bagaimana aku masih merasakan sakit saat melihatnya bersama cewek lain. Bagaimana aku mencoba tersenyum sekuat tenagaku di depannya. Bagaimana aku mencoba menganggap dia teman tanpa mempedulikan rasa sayang yang masih ada untuknya.

 

Hari ini dalam diam aku menulis dan merenungkan semua tentang kami.

Terima kasih atas semua pelajaran berharga yang kau berikan untukku.

Susah ataupun senang, itu semua menjadikanku semakin dewasa.

Kamu yang membuatku mengerti akan kehidupan yang kadang tak sesuai dengan harapan kita.

Kamu yang membuatku belajar bagaimana aku harus belajar menjadi seseorang yang professional.

Kamu yang mengajarkan padaku bagaimana aku menerima dan merelakan orang yang kita sayangi.

Kamu yang mengajariku bagaimana rasanya menjalani cinta dalam diam.

Kamu yang banyak memberiku inspirasi dalam berkarya.

Kamu yang membuatku merasakan satu lagi kisah cinta dengan warna yang berbeda.

Kamu yang membuatku sadar bahwa perbedaan pun kadang tidak membuat sesuatu dapat menyatu dengan baik.

Kamu yang menunjukkanku bahwa ada seseorang yang lebih baik untukku di luar sana.

Kamu yang mengajariku untuk tidak menangis saat hal buruk terjadi.

Terima kasih untuk semuanya.

Kenanglah aku sebagai salah satu orang yang sangat menyayangimu dalam satu bagian hidupmu sebagaimana aku mengenang sosok dirimu.

##FIN##

 

Advertisements

2 thoughts on “Short Story : Rasa yang Terakhiri

Your feedback is a gift

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s